
BADUNG – Penutupan sejumlah pintu masuk Pantai Kuta menuai reaksi di media sosial. Tak hanya dibanjiri komentar bernada protes, netizen juga meresponnya melalui meme.
Menyikapi hal itu, pihak Desa Adat menunda penyelesaian penutupan pintu masuk secara permanen menggunakan bata ringan yang disusun setinggi tembok eksisting tersebut. “Dari 17 pintu yang rencana ditutup, baru tiga yang kami tembok dan penyelesaiannya untuk sementara ditunda,”ujar Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista, Rabu 6 Oktober 2021.
Ia mengaku sudah menemui Sekda Badung I Wayan Adi Arnawa untuk menyampaikan terkait respon masyarakat di media sosial. “Kemarin (Selasa 5 Oktober 2021), saya sudah sampaikan sekaligus mohon petunjuk ke Pak Sekda. Terus terang kami sampaikan bahwa penutupan itu semata-mata demi mengoptimalkan pengawasan karena adanya penerapan scan QR Code aplikasi PeduliLindungi,”ungkapnya.
Wasista juga mengungkapkan akses keluar masuk Pantai Kuta cukup banyak. Sementara jumlah petugas terbatas. “Karena itu pula saya mohon ke Pak Sekda jika harus membiarkan semua pintu tetap terbuka, maka bantu kami dengan menempatkan petugas Satpol PP untuk turut mengawasi setiap pintu,” ungkapnya.
Wasista berharap masyarakat bisa memahami keputusan desa adat membatasi akses keluar-masuk pantai untuk optimalisasi pengawasan dan pemanfaatan scan QR Code aplikasi PeduliLindungi yang kini terpasang di 8 titik. “Sekarang ini pembukaan Pantai Kuta masih dalam tahap uji coba sehingga pengawasan harus betul-betul kita lakukan. Jangan sampai akibat tidak terkontrol, malah menimbulkan dampak lain yang merugikan Kuta dan pariwisata secara umum,” tandasnya. (adi)








