
BULELENG – Wakil Rakyat Buleleng di DPRD Provinsi Bali, I Wayan Artha mendukung Budidaya Porang yang saat ini gencar dilakukan masyarakat. Anggota Komisi III DPRD Provinsi Bali ini bahkan mengapresiasi budidaya tanaman jenis umbi-umbian ini sebagai salah satu bahan makanan pokok non beras yang dapat menambah cadangan pangan nasional.
“Selain murah meriah, Porang juga sangat gampang ditanam dan mudah dalam pemeliharaan. Masa tanam hingga panen juga cukup singkat, sekitar 6 – 8 bulan,” ungkap Wayan Artha, Minggu, 25 April 2021 disela-sela persiapan pengiriman Porang, hasil panen kelompok tani ke Bangshang, Perusahaan Manufaktur Pengolahan Umbi Porang di Mojokerto – Jawa Timur.
Mantan anggota DPRD Kabupaten Buleleng ini menandaskan, dukungan terhadap pengembangan budidaya Porang, bukan semata karena tanaman ini mudah dipelihara, tapi juga dapat ditanam dengan sistem tumpang sari dan memiliki nilai jual cukup menjanjikan.
“Asalkan ada umbinya, tanaman ini bisa tumbuh di mana saja, pada lahan dengan ketinggian tidak lebih dari 800 meter dari permukaan laut. Dengan masa tanam 6-8 bulan, Porang yang ditanam Bulan Oktober atau awal musim hujan, sudah bisa panen pada Bulan April sampai Juli, saat tanaman memasuki masa istirahat atau dorman,” jelasnya.
Semakin sedikit kadar airnya, Porang yang di tanam dari bibit berupa umbi pada Bulan Oktober, sudah bisa dipanen dengan berat rata-rata 2 kg. Selain dapat menjadi kegiatan bermanfaat pada masa Pandemi Covid-19, kata politisi dari Partai Hanura ini, budidaya Porang yang dilakukan secara terarah dan terukur juga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus menjadi cadangan makanan pokok non beras untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
“Karena, Umbi Porang yang dibeli oleh perusahaan manufaktur di Mojokerto, diolah menjadi bahan yang dapat dipakai untuk pembuatan beras rendah kalori dan obat-obatan di China maupun Jepang,” ujarnya.
Dengan harga yang cukup baik sekitar Rp 8.000/kg dan kebutuhan produksi 300 ton per/hari, Budidaya Porang tentu sangat menjanjikan.
“Melihat potensi dan kepastian pemasaran, saya berinisiatif melakukan penjajagan ke BPD Bali, agar bisa membantu permodalan kelompok tani dalam usaha Budidaya Porang ini,” pungkasnya. (kar)








