
DENPASAR – Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama didampingi Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry mengakui program-program pembangunan Bali yang disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster, semuanya sangat visioner. Program-program yang disampaikan sejak terpilih dan mengimplementasikannya sesuai visi Nangun Sat Kertih Loka Bali ditengah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) sangat berat. Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama meminta kepada Gubernur Bali Wayan Koster untuk lebih fokus pada penanganan Covid-19 dan perbaikan ekonomi Bali akibat terdampak Covid-19.
“Program-program Gubernur sangat visioner, banyak program yang disampaikan dalam laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur, tetapi karena situasi pandemi Covid-19, kita minta untuk saat ini Gubernur Bali Wayan Koster lebih fokus pada penanganan Covid-19,” pinta Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama seusai sidang paripurna DPRD Bali, Senin 29 Maret 2021.
Ketua DPRD Bali Adi Wiryatama mengatakan, dalam aturan yang ada saat ini, penyampaian laporan pertanggungjawaban gubernur memang wajib untuk disampaikan. Menyikapi laporan yang disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster terhadap LKPJ tahun anggaran 2020, secara langsung telah dibentuk Pansus dan ditunjuk orang-orang yang menjadi koordinator Pansus.
Dalam pembahasannya tentunya ada masukan yang akan disampaikan oleh anggota dewan termasuk juga akan dikritisi sejumlah hal penting yang disampaikan dalam LKPJ Gubernur Bali Wayan Koster.
“Kami tidak akan menerima begitu saja LKPJ Gubernur yang disampaikan, kita akan tetap mengkritisi, memberikan masukan dan menyampaikan sejumlah catatan kepada gubernur. Kita tetap kritis yang baik kita akan tetap berikan apresisiasi,”ujarnya.
Adi Wiryatama berharap, ditengah pandemi Covid-19, dari sekian banyaknya program yang dimiliki dan dituangkan dalam vis Gubernur Bali Wayan Koster, hendaknya difokuskan pelaksanaannya satu per satu untuk diselesaikan. Jangan sampai program yang visioner tersebut tidak bisa diselesaikan lantaran saking banyaknya program disampaikan ke masyarakat dan waktu penyelesaiannya tidak cukup. Pihkanya khawatir, kalau tidak dapat diselesaikan, akan menjadi pertanyaan masyarakat dan hal itu telah menjadi hal yang klasik.
“Tidak akan ada artinya program yang visioner kalau tidak bisa diselesaikan dengan baik. Kita utamakan dulu penanganan Covid-19, kesehatan itu penting, kalau tidak sehat kita tidak akan bisa melaksanakan program,” imbuhnya.
Sementara dalam pemulihan ekonomi Bali sejak pandemi Covid-19 dan sudah berjalan setahun lebih, sangat dirasakan dampaknya. Bali selama ini menghandalkan sektor pariwisata dan sektor ini terlalu diminabobokan. Sementara sektor pariwisata sangat sensitif terhadap berbagai isu, bukan saja masalah penyakit dan kesehatan, tetapi sensitif juga terhadap keamanan dan juga isu bom.
Adi Wiryatama berharap kedepan, selain pariwisata juga diperhatikan secara serius keberadaan Usaha Mikro Kecil dan Menengaj (UMKM) yang ada di Bali termasuk sektor pertanian. Demikian juga alokasi anggaran pada sektor pertanian juga sangat kecil dalam APBD Bali. Menurutnya hal ini juga sudah menjadi hal yang klasik. Selama ini sektor pertanian selalu anggarannya kecil terlebih lagi ditengah pandemi Covid-19 sekarang ini. “Sekarang semua difokuskan pada anggaran kesehatan dan penanganan Covid termasuk anggaran di DPRD Bali juga terpangkas untuk penanganan kesehatan terutama Covid,” pungkasnya.
Sementara Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry menyampaikan, selama ini anggaran pada sektor pertanian sudah terus disuarakan di DPRD Bali. Namun, sampai saat ini diakui angkanya masih sangat kecil apalagi ditengah pandemi Covid-19, hampir semua hasil penyisiran anggaran dialokasikan untuk percepatan dan penanganan Covid.
Pihaknya berjanji akan terus menyuarakan tambahan anggaran pada sektor pertanian dan diharapkan pada pembahasan APBD Perubahan ada tambahan untuk sektor pertanian. Sebab, Bali tidak bisa hidup dari sektor pariwisata saja. Terbukti, saat Covid-19 yang sudah global, sektor pariwisata sudah terpuruk dan ekonomi masyarakat Bali benar-benar terpuruk. Saat ini, pekerja pariwisata balik kekampung untuk kembali bertani dengan harapan bisa bertahan hidup ditengah pandemi Covid. (arn)








