DPRD Bali Minta Pemprov Siapkan Anggaran Karantina Mandiri

0
131
Surat Sekdaprov Bali kepada Bupati dan Walikota terkait penghentian sementara karantina bagi pasien OTG-GR

DENPASAR- Anggota Komisi IV DPRD Bali Wayan Rawan Atmaja meminta pemerintah Provinsi Bali menyiapkan anggaran untuk kegiatan karantina mandiri bagi orang tanpa gejala-gejala ringan (OTG-GR) dan tenaga kesehatan (Nakes). Meski dikarantina di rumah masing-masing, mereka juga butuh makan, minum dan kebutuhan untuk bisa hidup disamping bantuan pengobatan.

“Tidak bisa sertamerta, karantina mandiri di rumah masing-masing, pemerintah lepas tangan begitu saja ketika tidak ada anggaran digelontorkan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah harus peduli dan harus menyiapkan anggaran untuk pelaksanaan karantina mandiri,” tandas Wayan Rawan Atmaja saat dihubungi via telepon, Minggu 21 Febrfuari 2021 menyikapi surat Sekretaris Daerah(Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra tertanggal 18 Februari 2021.

Surat Sekda Pemprov Bali Dewa Made Indra yang juga Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, bernomor 197/SatgasCovid19/II/2021, ditujukan kepada bupati/walikota se-Bali. Surat tersebut berisi 5 point utama salah satunya tentang pemberhentian sementara pelaksanaan karantina bagi orang tanpa gejala-gejala ringan dan tenaga kesehatan (Nakes).

Penghentian dikarenakan lantaran belum adanya kepastian pembayaran hotel tempat karantina mulai Maret 2021. Pembayaran tersebut berasal dari Dana Siap Pakai (DSP) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebelum adanya kpeastian dana, Pemprov Bali memberlakukan karantina mandiri di rumah masing-masing bagi para OTG-GR dan Nakes dan diserahkab aepenuhnya kepada Satgas Gotong-royong Covid-19 di masing-masing desa tempat pasien itu berada. Hal itu bertujuan untuk memudahkan untuk melakukan pengawasan isolasi dan karantina mandiri di rumah masing-masing.

Menurut Rawan Atmaja yang juga politisi Golkar dari Nusa Dua, Badung Selatan ini, kegiatan karantina di hotel dengan biaya yang sangat besar per harinya juga tidak maksimal dalam pencegahan penyebaran Covid-19. Sebaliknya yang terjadi, banyak pasien yang dikarantina di hotel justru semakin stress akibat jauh dari keluarga.

“Kami perhatikan selama ini, kalau di hotel malah banyak yang saya temukan OTG stress dan itu terjadi banyak penyebabnya, salah satunya jauh dari keluarga dan masalah masalah penanganan,”ujarnya.

Rawan meyakini, karantina mandiri dirumah memiliki kesempatan dan peluang kesembuhan yang lebih tinggi dibanding karantina di hotel. Buktinya, kasus karantina di hotel di Gianyar sampai meninggal dunia. “Kalau tidak ada penyakit bawaan dan penyakit kronis, lebih baik karantina dilakukan di rumah masing-masing dan biayanya jauh lebih murah ketimbang di hotel,” katanya.

Rawan Atmaja menyarankan pasien yang memiliki salah satu dari gejala Covid-19 yang cukup kronis tersebut agar dirujuk dan dirawat langsung di rumah sakit. Kalau dirawat di tempat karantina di hotel jelas tidak akan maksimal dalam perawatan. Agar Satgas Covid-19 Provinsi Bali tidak lepas tangan dan menyerahkan semata kepada Satgas Gotong-royong Covid-19 di masing-masing desa untuk mengawasi karantina mandiri tersebut.

Persoalannya selama ini, bagi keluarga yang memiliki keterbatasan tempat tidur di rumahnya akan menjadi kendala. Pemerintah juga harus memberikan bantuan berupa sembako, obat-obatan, vitamin dan bila perlu diberikan dana bantuan berupa uang tunai.

“Kita tidak bisa menyarankan karantina mandiri tanpa ada kepedulian pemerintah terhadap masyarakat kita yang dikarantina sehingga harus dianggarkan pemerintah di daerah kalau pusat tidak ada dana,” pungkasnya. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here