
BULELENG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Dinas Pariwisata (Dispar) salurkan bantuan hibah pemerintah pusat kepada pelaku pariwisata di Kabupaten Buleleng. Salah satu bentuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai Rp. 13,4 Miliar ini, diharapkan dapat mempercepat pemulihan perekonomian pada sektor industri pariwisata.
Selain pemanfaatan dana sesuai peruntukan, pelaku pariwisata juga diharapkan segera memperbaiki dan melengkapi administrasi usaha sehingga Dispar Buleleng dapat melaporkan kondisi realisasinya kepada pemerintah pusat.
“Saya juga berpesan agar pelaku industri wisata di Kabupaten Buleleng selalu mengurus administrasinya dengan baik. Sehingga, ketika ada program dari pemerintah dapat diberikan sesuai dengan persyaratan,” tandas Sekda Buleleng Gede Suyasa, Kamis (3/12/2020) usai penyerahan bantuan PEN Industri Pariwisata di Ranggon Sunset Pantai Penimbangan.
Mewakili Bupati Buleleng, Gede Suyasa yang juga Sekretaris Satuan Tugas Percepatan Penanganan (Satgas-PP) Covid-19 Kabupaten Buleleng juga menekankan agar pelaku usaha memenuhi serta konsisten, taat dan disiplin menerapkan ketentuan sertifikasi internasional, Cleanlines, Healthy, Safety, Environment Sustainbility (CHSE).
“Sertifikat Cleanlines, Healthy, Safety, Environment Sustainbility (CHSE) merupakan tanda autentik bahwa usaha pariwisata yang dilakukan memenuhi syarat, kebersihan, kesehatan, keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan atau pengunjung, termasuk dari penyebaran Covid-19,” jelasnya.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Buleleng Sudama Diana memaparkan, tahun 2020 ini sektor usaha industri pariwisata di Kabupaten Buleleng mendapat bantuan dana hibah program PEN sebesar Rp. 13,4 Milyar.
“Dari jumlah tersebut, 70 % atau sekitar Rp 9,3 Milyar diperuntukan sebagai biaya operasional hotel atau restoran, sementara 30 % atau sekitar Rp. 4,1 Milyar diperuntukkan sebagai pembiayaan sertifikasi CHSE oleh Pemerintah Daerah,” jelasnya.
Saat ini, bantuan hibah Rp 9.3 Milyar kepada 291 industri wisata hotel dan restoran baru terealisasi sebesar Rp 7,2 Milyar.
“Sedangkan sisanya, sebesar Rp 2,1 Milyar belum terserap karena ketentuan yang tidak memungkinkan dan faktor teknis,” jelasnya. (kar)








