Pandemi Covid-19, Limbah Medis BRSU Tabanan Meningkat

0
108
LIMBAH MEDIS: dr. Doddy (kiri) saat mendampingi Dirut BRSU tabanan dr Nyoman Susila memberikan penjelaskan terkait penanganan limbah medis

TABANAN – Pandemi Covid-19 memberi dampak luas di bidang kesehatan. Salah satunya, volume limbah medis di BRSU Tabanan yang meningkat rata-rata 27,52 persen dibandingkan tahun 2019.

Tercatat sampai Oktober 2020, BRSU Tabanan menghasilkan limbah medis mencapai 71,5 ton lebih. Peningkatan tersebut lebih dominan bersumber dari penggunaan APD setiap harinya dan BRSU Tabanan sudah menangani secara serius bekerja sama dengan jasa transporter untuk pengangkutan ke tempat pengolahan di Jawa.

Kepala Bidang Penunjang Non-Medik BRSU Tabanan, dr. I Wayan Doddy Setiawan saat mendampingi Direktur BRSU Tabanan dr. I  Nyoman Susila menjelaskan, limbah medis yang dihasilkan selama tahun 2019 sebanyak 65,383 kilogram atau 65 ton, dengan jumlah per bulannya di kisaran 4-6 ton. Sedangkan hingga Oktober 2020, meningkat 71,517 kilogram atau 71,5 ton lebih. Perbulannya, jumlah limbah medis yang dihasilkan 5-8 ton.  “Limbah medis di masa pandemi ini memang ada kenaikan sekitar 2 ton per bulannya dibandingkan tahun lalu,” kata dr. Doddy Setiawan, Kamis (26/11/2020).

Dijelaskan, sesuai data yang tercatat ada kenaikan jumlah di masa pandemi ini dengan rata-rata 27,52 persen. Kenaikan volume ini lebih dominan bersumber dari Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan setiap harinya oleh tenaga kesehatan di BRSU Tabanan. “Meskipun terjadi peningkatan kami sudah melakukan penanganan secara serius dan bekerjasama dengan jasa transporter untuk pengangkutan dan selanjutnya diolah ke tempat pengolahan di Jawa,” jelasnya.

Kemudian untuk di rumah sakit sendiri, pihaknya tak lagi melakukan pemilahan limbah medis ini. Sebab, setiap tenaga kesehatan sudah melakukan pemilahan secara mandiri di masing-masing unit karena telah disediakan tempatnya. Kemudian juga disediakan dua orang petugas yang mengangkut limbah medis dari setiap unit tersebut setiap hari. “Kami sudah menangani dengan baik. Meskipun tidak memiliki incinerator untuk pengolahan limbah medis rumah sakit, kami menggunakan transporter yang mengirim limbah tersebut ke tempat pengolahan limbah di daerah Jawa,” jelasnya.

Menurutnya, pengelolaan limbah infeksius (limbah B3) di masa pandemi, mengacu pada Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menjamin pengolahan limbah yang aman bagi lingkungan, aman bagi pasien dan aman bagi karyawan RS.  “Sesuai aturan, limbah medis ini diangkut setiap dua hari sekali jasa transporter tersebut,” tandasnya.(jon,dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here