Kupas Fungsi Ketungan, Museum Subak bersama Dinas Kebudayaan Gelar Seminar

0
60
KETUNGAN : Museum Subak Tabanan bersama Dinas Kebudayaan Tabanan gelar seminar kajian koleksi ketungan di Musuem Subak Tabanan

TABANAN – Ketungan saat ini sudah tak lagi difungsikan sebagai wadah penumbuk beras, melainkan menjadi pengantar saat pelaksanaan upacara yadnya serta sebagai pertunjukan kesenian atau media seni. Terkait hal tersebut, Museum Subak Tabanan bersama Dinas Kebudayaan Tabanan menggelar seminar kajian koleksi “ketungan” di Musuem Subak Tabanan, Selasa (24/11/2020). Seminar yang diikuti seniman muda Tabanan ini mengupas tentang sejarah, peradaban, serta alih fungsi ketungan di Tabanan.

Seiring perkembangan zaman, saat ini Ketungan menjadi ekspresi kesenian yakni dengan permainan bunyi saat ini karena sudah dianggap tidak fungsional lagi  sebagai tempat menumbuk beras. Mengingat tekonologi sudah mengalih fungsi sebagian besar kegiatan manual atau tradisional di Bali khususnya di Tabanan. Prinsip utamanya saat ini adalah sebagai seni musik atau gamelan. Padahal ketungan tak mengenal nada, namun ketika dimainkan setiap ketungan memiliki suara yang berbeda-beda. Selain itu juga bisa menjadi pengiring saat pelaksanaan upacara  adat seperti ngaben, potong gigi, dan tiga bulanan.

Kepala UPTD Museum Subak Tabanan, Ida Ayu Pawitrani mengatakan, kegiatan seminar ini  rangkaian dari kajian terkait ketungan di Tabanan sebelumnya. Dari seminar ini banyak yang bisa digali, sehingga ini diharapkan mendapatkan masukkan baru dari masyarakat.

“Ini (seminar)  sangat diperlukan agar kami bisa lebih detail lagi dalam menyampaikan ketungan pada para pengunjung museum subak. Artinya kami akan mendapat data yang lebih lengkap lagi tentang ketungan ini,” jelas Dayu Pawitrani.

Dijelaskan, tujuan  kajian, untuk memperjelas  atau menambah  pemahaman informasi mengenai koleksi budaya agraris yang ada di museum subak Tabanan ini. Bahkan tahun ini ada dua kajian yang dilakukan  tim yang juga menjadi narasumber seminar. Tahun ini ada kajian yang dipimpin langsung Kepala UPTD Museum Subak  tentang Ketungan dan Jineng lebih mendalam.

“Intinya untuk menambah informasi mengenai koleksi budaya agraris disini. Sehingga ketika informasi tersebut sudah lengkap, lebih memudahkan penyampaian pada pengunjung oleh pemandu disini. Artinya pemandu wajib mengetahui hasil seminar ini sehingga menambah wawasan mereka utk disampaikan kepada pengunjung nantinya. Jadi kita akan punya informasi yang mendalam tentang koleksi yang ada di museum subak,” jelasnya.

Disingung mengenai ketungan yang masih difungsikan sebagai penumbuk padi manual di Tabanan, Dayu Pawitrani menyatakan sudah tidak ada. Meskipun begitu, masih ada fungsi lain dari ketungan ini di Bali seperti untuk upacara agama terutama upacara-upacara besar di Bali seperti pitra yadnya, manusa yadnya dan lainnya.

“Selain ngaben, juga bisa digunakan saat upacara potong gigi atau tiga bulanan. Malah itu dipakai untuk menunjukkan status sosial di kalangan masyarakat,” sebutnya.

Kemudian untuk keberadaan ketungan juga saat ini sudah sangat jarang. Hal tersebut diketahui setelah beberapa waktu lalu pihaknya bersama tim kajian berkeliling di Tabanan.  Pihaknya juga ke Pura Batukau, Jatiluwih, Tegal Mengkeb, Buwit, dan Baturiti untuk mengecek ketungan yang ada. Di situ ada ketungan-ketungan yang sudah tua  berumur sekitar 50 tahun lebih.

“Sebagian besar  (ketungan) sudah disakralkan  masyarakat setempat. Kemudian untuk beberapa ketungan juga difungsikan untuk pertunjukan seni,” katanya. (jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here