Tangani Sampah Organik dengan Teknologi Eco Enzyme

0
27

TABANAN – Sampah masih saja menjadi momok di seluruh Indonesia termasuk di Tabanan. Saat ini, hampir semua sampah yang dihasilkan terutama sampah rumah rumah tangga bermuara di TPA. Hal ini memunculkan ide untuk pengolahan sampah berbasis rumah tangga.  Dengan mulai diperkenalkannya  sistem eco enzyme yang mulia dilirik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tabanan untuk mengurangi sampah dibuang ke TPA Mandung.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan I Made Subagia mengatakan upaya dengan teknologi Eco Enzyme juga mempermudah proses penguraian sampah organik yang dihasilkan oleh sejumlah TPS3R di Tabanan. Teknologi  Eco Enzyme telah dikembangkan di berbagai daerah di Bali seperti Buleleng, Denpasar dan kabupaten lainnya. Di Tabanan pihaknya  mencoba mengenalkan, namun dimulai dari lingkup DLH Tabanan.  

“Teknologi Eco Enzyme salah satu cara mengolah sampah berbasis rumah tangga (sumber) dan akan mengurangi sampah  dibawa ke TPA,” ungkap Made Subagia, Minggu (22/11/2020).

Menuruntya, Eco Enzyme pemanfaatan sisa-sisa sampah organik. Seperti sayuran dan buah sebagai bahan pembuatan Eco Enzyme kemudian difermentasi dengan jangka waktu selama tiga bulan.

“Manfaat Eco Enzyme banyak sekali selain mengurangi sampah organik. Juga dapat dijadikan sebagai pembersih lantai, pupuk cair, menjaga kebersihan lingkungan dan sampah organik aman dari bau yang dihasilkan  ketika didiamkan selama berhari-hari,”  jelasnya.

Subagia menjelaskan,  cara pembuatan Eco Enzyme sangatlah sederhana. Cukup menyediakan air sebanyak 10 liter dicampur dengan molase 1 liter/gula merah atau bisa juga gula tebu dan sampah organik buah dan sayuran sebanyak 3 kilogram. Wadahnya menggunakan tong cat bekas untuk membuat Eco Enzyme. Wadah pembuatan Eco Enzyme bisa juga menggunakan botol bekas dan ember yang pembuatan skala rumahan sampah organik.

“Tidak makan tempat dan biaya yang banyak, kalau dikembangkan dalam mengelola sampah organik di rumah tangga sangat bagus ,” sebutnya.

Sejauh ini pengelolaan sampah organik Tabanan memang belum terkelola secara maksimal. Sehingga Eco Enzyme menjadi salah satu cara penanganan sampah-sampah organik yang dihasilkan.  Jumlah sampah organik cukup banyak dari hasil sampah rumah tangga. Bila sampah-sampah tersebut diolah, maka sampah yang masuk ke TPA dan TPS akan berkurang signifikan. Karena  daya tampung TPA Mandung sudah overload.

“Setelah kami memulai terlebih dahulu dan berhasil. Baru nantinya akan kami kenalkan cara pengelolaan ke banjar-banjar, TPS3R dan rumah tangga. Saya sendiri di rumah sudah membuat,” ungkapnya.

Disisi lain kata Subagia, cara lainnya yang untuk menangani sampah organik yakni mengolah sampah dengan teknologi teba komposter skala rumah tangga. Metode teba komposter ini sangat cocok jika diterapkan di rumah masing-masing terutama yang tinggal di perumahan. Sebelumnya salah satu komunitas sempat memperkenalkan teba komposter.

“Teba komposter adalah suatu teknologi sebagai aplikasi kehidupan kita di masa lalu, sebab dulunya orang tua terdahulu pernah punya lahan yang luas dan pada sisi pinggir digunakan sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga,” jelasnya.

Teknologi komposter skala rumah tangga dengan menggunakan ember yang mampu menampung minimal 20 kilogram sampah rumah tangga. Sampah-sampah organik yang ditampung dalam ember ditutup rapat baru kemudian disemprot dengan sebuah  bioaktivator yakni cairan Eco Enzyme. Teknologi ini sudah mulia disosialisasikan ke beberapa desa di Tabanan .  Masyarakat  diharapkan bisa memahami cara pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dengan berbagai manfaat yang didapat.

“Nantinya, setiap hari masyarakat bisa menerapkan pengolahan sampah berbasis sumber sampah rumah tangga dengan teknologi  tebe komposter  untuk dijadikan kompos. Kalau ini bisa dilakukan saya yakin, TPA tidak akan overload,” pungkasnya. (jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here