Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari Gelar Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari di Gianyar

0
74


Suasana saat digelar acara Forum Bincang dan laku hidup Lestari di Gianyar


GIANYAR – “Forum Bincang dan Laku Hidup
Lestari”, sebuah event kolaborasi Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari secara resmi digelar di venue Yayasan Bali Purnati, Sabtu (21/11/2020) di Gianyar.


Kegiatan yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2020 ini mengusung tema “Berakar Pada Tradisi dan Budaya, Belajar Dari Masyarakat Adat” untuk menerapkan Laku Hidup Lestari yang lebih dikenal
dengan istilah Sustainable Lifestyle.

Event yang berlangsung selama mulai 21 hingga 22 November 2020 inidipantik oleh kepedulian terhadap Bumi, rumah kita semua yang terus
tergerus akibat berbagai aktivitas manusia. Tak hanya meninggalkan jejak karbon yang besar, gaya hidup yang tidak sustainable juga mengakibatkan
peningkatan suhu bumi, hilangnya hutan, mengakibatkan kelangkaan air bersih, kepunahan spesies hewan, ikan dan biota laut. Padahal, semua itu adalah sumber daya alam yang ketersediaannya semakin terbatas.

Merdi Sihombing, founder Yayasan Merdi Sihombing, dalam kata sambutan yang disampaikannya pada pembukaan “Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari” mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memberikan referensi bagi masyarakat umum agar dapat hidup lebih baik
dengan alam, tanpa merusak alam sekitar kita.

“Kerusakan bumi masih menjadi topik pembicaraan di kalangan tertentu saja. Belum banyak yang sadar dan menyepakati sebuah tindakan dan cara
hidup yang berkelanjutan agar bumi lestari. Padahal, kerusakan bumi sebagian besar berasal dari aktivitas manusia karena bergantinya gaya
hidup dari ‘needs’ menjadi ‘wants’,” ungkap Merdi Sihombing yang juga pegiat sustainable fashion.

Sejatinya, manusia sebagai penghuni bumi dapat melakukan berbagai langkah kecil dalam gaya hidup sehari-hari untuk tetap menjaga kelestarian Bumi. Mulai hidup dengan sadar, kurangi konsumsi yang
berlebihan, dan aktivitas yang meninggalkan jejak karbon, serta perbanyak sebuah tindakan memberi kepada alam. Hidup dengan prinsip “sustainable” membuat keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlangsungan alam beserta isinya. Apa yang diperbuat sekarang akan berdampak pada hari esok.

“Perubahan ini dilakukan demi menyelamatkan
Bumi untuk kehidupan generasi selanjutnya, ujar Merdi Sihombing.

Sementara Ketua Yayasan Losari, Restu Imansari
Kusumaningrum berharap acara “Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari” dapat menjadi medium bagi masyarakat luas untuk belajar tentang laku
hidup lestari dari kearifan lokal dan budaya.

“Dalam keadaan sulit sekarang ini, kita harus berani mengatakan dari mana asal-usul kita dan tetap mengakar pada kebudayaan kita sendiri, harapnya.

Acara ini didasari oleh kesadaran kami, Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari, untuk berkaca dari laku hidup masyarakt adat dan melihat ke depan demi mengubah laku hidup kita bersama-sama, demi melestarikan dan menjaga, serta memuliakan peradaban Indonesia. Harapan kami lewat acara ini, setidaknya kita peduli dan mau belajar dari kearifan dan lakuhidup yang diamalkan masyarakat adat sejak zaman dahulu.

“Semoga audiens yang hadir adalah orang-orang yang sudi mendengarkan dengan rendah hati bahwa kehidupan itu harus diubah dan harus cepat
mengambil tindakan,” jelas Restu Imansari
Kusumaningrum.

“Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari” yang diadakan selama dua hari ini menampilkan berbagai aktivitas seperti diskusi, lokakarya dan pameran, serta pemutaran film dokumenter. Para pegiat Laku Hidup Lestari seperti Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Suzy Hutomo (Founder Sustainable Suzy, Climate Reality Leader)
dan Komang Sri Mahayuni (IDEP Foundation) akan tampil dalam forum diskusi di hari pertama. Kegiatan 21 November 2020 juga diramaikan dengan pemutaran film dokumenter dari AMAN, film “Tabob” karya Brian Rayanki, dan film “Sacred and Secret” karya Basil Gelpke yang terinspirasi buku berjudul sama karya Gill Marais.

Pada hari kedua, dapat diikuti diskusi dengan pembicara Andar Manik dan Yoyo Yogasmana (Kasepuhan Ciptagelar), I Wayan Sudarsana (Masyarakat Adat Bali Aga), dan Putu Ardana (Tokoh Adat, Pemilik Don Biyu dan Blue Tamblingan Coffee).

Digelar pula lokakarya pembuatan sabun organik oleh Sito Kosmetik, Pencelupan Warna Merah dengan pewarna alam oleh Agus Haerudin dari
Balai Besar Kerajinan dan Batik. Pameran wastra nusantara menggelar karya dari Yayasan Merdi Sihombing, Yayasan Losari, Dekranasda Kabupaten Dairi, Kelompok Tentun Tanekavate, Alor, NTT (CSR Pegadaian), Tenun Gringsing dari Masyarakat Adat Bali Aga dan anyaman purun yang didukung Badan Restorasi Gambut, Tetes ASA, serta Tenun Gringsing dari Masyarakat Adat Bali Aga.(pur/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here