Tertibkan Tajen, Dandim 1609/Buleleng Dilaporkan ke Denpom IX/3 Denpasar

0
242
DIALOG : Melalui dialog, Dandim Buleleng dan Ketua DPC Peradi sepaham dan sepakat taat hukum serta bersinergi memutus rantai penyebaran Covid-19 di Buleleng

BULELENG – Penertiban judi tajen di Desa Tinga-tinga Kecamatan Gerokgak, Selasa (29/9/2020) berbuntut panjang. Lantaran diduga bertindak arogan saat penertiban tajen, serangkaian pelaksanaan Pergub Bali No 46 tahun 2020 dan Perbup Buleleng No 41 tahun 2020 tentang Penerapan Displin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Sebagai Upaya Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Dalam Tatanan Kehidupan Era Baru, Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Mohhamad Windra Lisrianto dilaporkan ke Denpom IX/3 Denpasar.

Melalui kuasa hukum dari Young Lowyer Community (YLC), dua warga Desa Tinga-tinga, Gusti Kompyang Adnyana dan Gusti Bagus Setiawan alias Gusti Balon, melaporkan Dandim Windra Lisrianto ke Denpom IX/3 Denpasar terkait sikap dan tindakan arogan dilakukan saat operasi yang dapat menciderai citra TNI.

Menyikapi laporan warga masyarakat tersebut, Rabu (21/10/2020) siang, Dandim 1609/Buleleng Letkol Inf Mohhamad Windra Lisrianto, menemui Ketua DPC Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Singaraja Gede Harja Astawa dan Putu Anggar Satria Kusuma selaku kuasa hukum pelapor di Kantor DPC Peradi Singaraja. Selain meminta konfirmasi dan menyampaikan klarifikasi, Dandim Windra juga memaparkan kondisi Pandemi Covid-19 di Buleleng yang harus disikapi bersama-sama semua komponen.

“Setelah saya paparkan, klarifikasi, apa yang terjadi sebenarnya dilapanga, semua dapat dipahami oleh kawan-kawan dari Peradi dan YLC sehingga persoalan menjadi jelas dan tidak ada niat sedikitpun, dari saya untuk menyakiti masyatakat,” tandasnya. Semua dilakukan serangkaian tugas Satgas dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 dari klaster tajen.

Terkait proses hukum judi tajen, kata Dandim Windra, diserahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian karena bukan menjadi kewenangan TNI.”Sebagai bagian dari Satgas Covid-19, TNI bersama institusi lain melakukan tugas yang sama, memutus rantai penyebaran Covid-19 baik kluster tajen dan yang lainnya, demi terwujudnya Zone Hijau Kabupaten Buleleng,” tegasnya.

Dengan pertemuan yang penuh kekeluargaan, Dandim Windra juga mengapresiasi dukungan YLC dan DPC Peradi Singaraja terhadap Satgas Covid-19 Buleleng sebagai bentuk kepedulian advokat/pengacara terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan Pandemi Covid-19.”Dukungan dan kepedulian seluruh komponen, termasuk rekan-rekan dari Peradi sangat membantu percepatan pencegahan dan pengendalian Pandemi Covid-19, khususnya di Kabupaten Buleleng,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan Ketua DPC Peradi Singaraja, Gede Harja Astawa. Selain mengapresiasi jiwa besar Dandim Windra Lisrianto menjelaskan memberikan klarifikasi.”Dari klarifikasi itu ada beberapa hal yang dapat kami pahami, memang ada fakta seperti itu, tapi tidak ada maksud sedikitpun sesuai klarifikasi beliau. Terkait tajen, soal judi, silahkan diproses oleh aparat kepolisian, kami hanya membela hak-hak warga masyarakat, bukan perbuatannya,” tegas Harja meyakinkan.

Apalagi tugas Satgas Covid-19, sebagai tugas tambahan adalah meminimalkan penyebaran Covid-19, salah satunya klaster tajen.”Kita berikan suport tadi, jangan berhenti oleh surat kami, sepanjang hal-hal yang merupakan masukan dari kami, istilah bali ‘bhaktine melarapan sisip’, niat baik tapi cara kita beda, itu artinya kurang bagus,” tandasnya.

Masukan dari YLC dan Peradi, kata Harja, merupakan upaya dalam peningkatan sinergitas.”Bagaimana kita meningkatkan sinergi yang lebih baik. Sekali lagi, posisi Peradi adalah tetap taat pada hukum, apapun prosedur disana, dan yang di Polres tidak ada sangkut pautnya dengan surat kami. Silahkan diproses, kalau terbukti dan juga kalau tidak terbukti, itu kan urusan pengadilan, itu urusan penyidikan,” tukasnya.

Harja berharap, apa yang terjadi, menjadi awal yang bagus dalam meminimalkan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Buleleng.” tandas Harja dibenarkan Putu Anggar Satria Kusuma. Selaku kuasa hukum, Satria Kusuma menyebutkan yang menjadi keberatan kliennya adalah tindakan pengguntingan rambut Gusti Bagus Setiawan alias Gusti Balon dihadapan masyarakat, istri dan anaknya, serta penodongan senjata terhadap Gusti Kompyang Adnyana. (kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here