
BULELENG – Upaya menggali sekaligus menggarap potensi lokal Bali, khususnya Buleleng semakin gencar dilakukan bahkan terus berkembang. Tak hanya sektor pertanian dan perkebunan seperti produksi buah-buahan maupun sayu mayur, sejumlah komponen masyarakat yang dikoordinir Forum Komunikasi Kepala Desa/Lurah (Forkomdeslu) juga mulai mengembangkan budidaya ternak ‘Babi Hitam Bali’ (BHB,red).
“Budidaya Babi Bali, Celeng Selem ini sangat potensial untuk mendongkrak perekonomian masyarakat ditengah Pandemi Covid-19,” ungkap Prebekel Desa Joanyar Kecamatan Seririt, Ketut Wijaya, Senin (24/8/2020) siang usai melakukan audensi ke sejumlah wakil rakyat di Gedung DPRD Kabupaten Buleleng.
Prebekel Wijaya yang juga menjabat Ketua Forkomdes Buleleng Barat menandaskan, “budidaya ‘BHB’ juga merupakan salah satu implementasi program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dan Pemkab Buleleng dalam upaya menggali dan pemberdayaan produk lokal Bali, Cinta Produk Lokal Bali,” tandas Prebekel Wijaya yang akrab disapa Pak Mental.
Dengan pola pemeliharaan yang sederhana, murah dan mudah, hasil budidaya BHB yang telah dikembangkan sejak tahun 2018 bahkan semakin meriah. “Meskipun terjadi wabah ASF tahun 2019, angka kematian Babi Hitam Bali dapat dikatakan kecil, dibandingkan dengan babi jenis lainnya,” tandas Mental yang juga aktif sebagai pembudidaya ‘BHB’.
Melihat potensi dan hasil budidaya BHB, kata Prebekel Mental, pihaknya mengajak anggota Forkomdeslu Buleleng Barat untuk memulai dan bersama-sama mengembangkan budidaya BHB pada masing-masing desa. “Budidaya BHB sangat potensial untuk menggerakkan perekonomian warga masyarakat, karena disamping pola pemeliharannya sederhana, mudah dan murah. Pemasaran hasil produksi juga meriah, karena selain merupakan kebutuhan pokok ritual upacara, Celeng Selem yang memiliki rasa yang khas juga dibutuhkan untuk pasokan konsumsi masyarakat maupun kegiatan kuliner yang kini banyak berkembang sebagai destinasi pariwisata,” tandas Mental dibenarkan Prebekel Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Mangku Made Ariawan.

Ditambahkan Prebekel Ariawan yang juga menjabat Ketua Forkomdeslu Buleleng Tengah, pengembangan budi daya BHB juga akan dilakukan pada desa/kelurahan yang ada di Buleleng Tengah.”Karena, budidaya Babi Hitam Bali ini sangat potensial, terlebih dengan penggunaan pola kawin suntik yang diprogramkan Pemkab Buleleng melalui Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Tentu akan dapat mempercepat produksi dan sangat membantu dalam percepatan pemulihan perekonomian masyarakat ditengah Pandemi Covid-19,” tandasnya. Untuk pengembangan budidaya BHB di Buleleng Tengah, khususnya di Desa Panji, mantan Anggota DPRD Buleleng periode 2014-2019 ini bahkan mengaku sudah menyiapkan lahan dan kandang.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng I Made Sumiartha membenarkan adanya program pengembangan budidaya BHB di Kabupaten Buleleng. “Pada APBD Perubahan kami ajukan program persiapan, antara lain kegiatan pelatihan kawin suntik pada denplot peternakan yang ada di Desa Baturiti Tabanan dan pengadaan bibit pejantan, yang memang sangat susah. Ada satu pejantan, setelah dijajagi ternyata sudah dikastrasi, sehingga spermanya tidak bisa diambil,” tandasnya.
Sumiartha mengingatkan agar budidaya BHB ditengah wabah ASF dilakukan sesuai protokol. “Seperti kita beradaptasi dengan Covid-19. Jaga kebersihan kandang, desinfeksi dan sosial serta phyisikal distancing,” pungkasnya. (kar)








