
Kampus Undiksha tutup dalam waktu yang tidak ditentukan setelah salah satu guru besar meninggal dan melakukan WFH.
BULELENG – Sejak mewabah awal Maret 2020, penyebaran Pandemi Covid-19 di Kabupaten Buleleng yang sempat melandai hingga Bulan Juli 2020, kembali meningkat sejak awal Agustus 2020. Dibukanya tatanan era baru yang tidak didukung ketaatan dan kedisiplinan warga masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan justru memicu tren peningkatan kasus terkonfirmasi atau positif terinfeksi Covid-19, pasien meninggal dunia akibat Covid-19 dan Probable (pasien meninggal dunia sebelum hasil swab keluar,red) di Kabupaten Buleleng. Menurunya ketaatan dan kedisiplinan masyarakat serta pengawasan dalam penerapan protokol kesehatan, juga ditengarai memicu penyebaran Covid-19 yang tidak pandang bulu melalui transmisi lokal dan klaster baru.
Dari data dan informasi yang dihimpun, sejak mewabah awal Maret 2020, Covid-19 tak hanya menyasar orang tua dan pengidap penyakit bawaan seperti jantung, diabetes dan paru-paru (pnominia). Dari data penanganan pasien/kasus konfirmasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Buleleng sampai dengan Selasa (18/82020), jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi sebanyak 253 orang. Berdasarkan umur pasien terinci sebagai berikut, umur 0 – 10 tahun sebanyak 7 orang, 11 – 20 tahun sebanyak 15 orang, 21 – 30 sebanyak 35 orang, 31 – 41 tahun sebanyak 45 orang, 41 – 50 tahun sebanyak 50 orang, 51 – 60 tahun sebanyak 57 orang, 61 – 70 tahun sebanyak 31 orang, 71 – 80 tahun sebanyak 7 orang dan umur diatas 80 tahun sebanyak 6 orang.
Selain tidak pandang usia, Covid-19 yang awalnya dikhawatirkan terjangkit pada Pekerja Migran Indonesia (PMI) baik pekerja kapal pesiar maupun tenaga kerja indonesia (TKI) yang datang dari negara terjangkit, justru menyebar tanpa mengenal profesi. Melalui transmisi lokal, Covid-19 menyasar orang dengan profesi beragam. Dengan rincian sesuai data pasien terkonfirmasi yang ditangani Tim Medis GTPP Covid-19 Buleleng, PMI sebanyak 14 orang, Pedagang sebanyak 21 orang, Tenaga Kesehatan (Nakes) sebanyak 26 orang, ABK sebanyak 2 orang, ASN sebanyak 18 orang, Polisi/Polwan sebanyak 5 orang, Bebotoh/Tajen sebanyak 2 orang dan profesi lain-lainnya sebanyak 165 orang.
Sekretaris GTPP Covid-19 Buleleng, Gede Suyasa saat dikonfirmasi Selasa (18/8/2020) tidak menampik hal tersebut. Suyasa yang juga Sekda Buleleng ini menambahkan, data terkini penanganan kasus/pasien Covid-19 juga menunjukkan adanya klaster baru penyebaran Covid-19. “Sebelumnya terjadi klaster pasar, sehingga Pasar Bondalem dikarantina, kemudian di RSUD Buleleng meskipun tidak sampai karantina, termasuk perkantoran dan terakhir Undiksha Singaraja serta tajen, yang sangat berpotensi sebagai tempat penyebaran Covid-19,” tandasnya.
Memperhatikan pola penyebaran Covid-19 yang hingga saat ini belum ada obat dan vaksinya ini, penerapan protokol kesehatan secara disiplin adalah upaya terbaik dalam beradaptasi dengan Covid-19.
Suyasa menambahkan, sesuai data terkini penanganan Covid-19 di Kabupaten Buleleng jumlah kumulatif kasus konfirmasi sampai dengan Selasa (18/8/2020) sebanyak 253 orang. Dengan rincian 176 orang sembuh, 3 orang meninggal dunia dan 74 orang menjalani isolasi. Jumlah kumulatif Kasus Suspek sebanyak 423 orang, dengan rincian 129 Suspek Konfirmasi, 225 Discarded (selesai masa pantau), 62 orang masih dipantau dan 7 orang Probable (meninggal dunia sebelum ada hasil test menunjukkan positif atau negatif terinfeksi Covid-19). Untuk jumlah kumulatif Kontak Erat sebanyak 3.801 orang, dengan rincian 119 Kontak Erat Konfirmasi, 2.726 Discarded (selesai masa pantau), 883 Karantina Mandiri. “Kontak Erat menjadi Suspek sebanyak 73 orang, sementara Kasus Konfirmasi Non Suspek atau Kontak Erat sebanyak 5 orang,” pungkasnya. (kar)








