
BADUNG – Berbagai unsur masyarakat Desa Adat Kedonganan serentak melakukan penanaman ribuan bibit mangrove di pesisir timur Kedonganan, Selasa (21/7/2020). Selain sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, aksi itu merupakan langkah awal dari rencana pengembangan pariwisata berkonsep eko mangrove.
“Penanaman mangrove yang kami lakukan hari ini, sejalan dengan rencana kami ke depan karena yang ingin kami kembangkan adalah pariwisata berbasis lingkungan dalam artian konservasi. Jadi, selain tanam mangrove, kami di sini juga lakukan pembersihan kawasan dari sampah, utamanya sampah plastik,” beber Bendesa Adat Kedonganan Wayan Mertha.
Bahkan kini, kata Wayan Mertha, aktivitas pro lingkungan semacam itu dirasa sudah mulai menjadi kebiasaan para nelayan yang setiap pulang dari melaut senantiasa menyempatkan diri untuk memungut sampah yang ada dalam area hutan mangrove. “Pariwisata berbasis lingkungan yang akan kami kembangkan di sini, kami sebut dengan istilah eko mangrove karena kelestarian alam mangrove-lah yang akan menjadi daya tariknya,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakannya, saat ini ada tiga kelompok nelayan yang beraktivitas di pesisir Timur Kedonganan. Yaitu Kelompok Nelayan Segara Ayu, Kelompok Nelayan Ulam Sari, dan Kelompok Nelayan Wana Segara Kertih. “Merekalah yang kami berikan tugas untuk menjaga dan mengembangkan potensi pariwisata alam mangrove ini. Tentunya itu di bawah panduan kami di desa adat,” bebernya.
Ia mengakui untuk sempurnanya perwujudan mimpi tersebut, dukungan dari pemerintah tentu sangat didambakan. Salah satunya melalui pemberian izin pemanfaatan jasa lingkungan dari pihak Kehutanan. “Peranan yang diberikan Pemerintah Provinsi Bali terhadap desa adat melalui sejumlah regulasi yang dikeluarkan, sangatlah luar biasa. Kewenangan dan tugas yang diberikan tentu harus betul-betul kita singkronkan. Agar apa yang menjadi harapan Pak Gubernur tentang peran yang bisa dilakukan oleh desa adat, benar-benar bisa terwujud,” tambahnya. (adi)








