FeaturedTabananTerkini

Derita Made Mahaputra, Anak Pintar Sejak SMP Derita Penyakit Aneh

TABANAN – Made Mahaputra didampingi ayahnya I Wayan Santun dan Ibunya warga Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Tabanan hanya terdiam, ketika rombongan Perbekel Sudimara dan para relawan Yowana Kanti warga Desa Sudimara yang tinggal di luar datang ke rumahnya menyerahkan bantuan beras sebanyak 10 kilogram, Minggu (14/6/2020).

Kondisi Made Mahaputra memang sangat memprihatinkan. Dia yang sejak SMP mengalami penyakit aneh seperti stroke tidak bisa bangun apalagi berjalan . Selama bertahun-tahun hanya tergolek di tempat tidur. Namun kini kondisinya membaik dan sudah bisa berjalan. Namun tetap saja terlihat seperti orang linglung. Menurut kerabatnya, Made Mahaputra saat sekolah sangat pintar. Saking pintarnya, pamannya yang lebih mampu yang menyekolahkan di wilayah Jimbaran. Namun ketika SMP tiba-tiba mengalami sakit aneh dan derita ditanggung sampai sekarang. Kini mereka tinggal di rumah yang bisa dibilang tidak layak huni. Beruntung Mahaputra kini sudah bisa jalan.

Sementara orang tuanya tidak bekerja dan tidak memiliki lahan. Sehari-hari biasanya ibunya berjualan di kantin sekolah di depan rumahnya ketika sekolah masih berjalan normal untuk biaya hidup. Sementara ketika pandemic Covid-19, hanya berjualan bubur di depannya rumahnya setiap pagi melayani warga sekitarnya. “Kondisinya memang memprihatinkan, “ ungkap warga sekitarnya.

BACA JUGA:  Koster Undang 500 Tomas Hadiri Sosialisasi Haluan Pembangunan Bali Masa Depan di Klungkung
I Wayan Santun (kanan) bersama istri (tengah) dan anaknya I Made Mahaputra ( kiri) duduk di teras depan rumah yang kondisinya sudah memprihatinkan.

Melihat ini, Perbekel Sudimara I Nyoman Ariadi menginisiasi peguyuban tersebut untuk mengumpulkan donasi dari warga Sudimara yang tinggal di luar desa. Animo warga ini sangat bagus sehingga terkumpul uang sampai Rp 93 juta. Uang ini dibelikan untuk 702 orang warga terdampak. Masing-masing warga mendapatkan 10 kilogram beras. “Saya hanya menginisiasi saja, ternyata respon rekan-rekan kami di luar desa sangat luar biasa, sehingga terkumpul uang mencapai sekitar Rp 93 juta,” ungkapnya.

Kenapa hanya beras, menurut Ariadi, karena warag di Desa Sudimara memerlukan beras. Sementara untuk sayur mudah didapat karena banyak yang menanam sendiri. Selain itu juga banyak yang berporfesi sebagai nelayan sehingga gampang mendpatkan lauk berupa ikan. “Itu alasan mengapa hanya beras, karena itu kebutuhan warga,” jelasnya.

Dia memastikan , mereka yang menerima ini merupakan warga terdampak Covid-19 , namun tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. dari jumlah 93 Juta tersebut, sekitar 93 dibelikan beras untuk 702 warga terdampak. Sementara sisanya sekitar Rp 20 Juta kata Ariadi akan digunakan untuk melanjutkan program bantuan ini kepada 26 keluarga yang memang benar-benar membutuhkan. Mereka akan dibantu lagi dalam waktu empat bulan ke depan. “Ada 26 keluarga yang kondisinya memang memprihatinkan sekali, ada anak kecil kelas 4 SD yang hanya tinggal kakek neneknya karena ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi,” jelasnya.

BACA JUGA:  Pj Bupati Buleleng Ingatkan Pentingnya Literasi Untuk Percepatan Transaksi Digital

Terkait keluarga I Wayan Santun, pihaknya memang sudah pernah mengajukan untuk mendapatkan bedah rumah, namun oleh tim dicoret karena rumahnya dinilai masih layak huni. Sementara pantauan di lapangan rumah keluarga I Wayan Santun sangat memprihatinkan. Rumahnya merupakan bangunan lama. “Kami memang berencana melakukan rehab rumah ini melalaui program desa, karena ingin tetap mempertahankan bentuk rumahnya . Ini hanya tinggal rehab saja ,” sebutnya.

Selain mendapatkan bantuan 10 Kilogram khusus untuk 26 warga ini mendapatkan bantuan berupa uang tunai dari seorang relawan Nyonya Iin Sumariani yang merupakan anak dari pemilik Toko Nyoman Kediri. Ibu Iin bersama rombongan mendatangi satu persatu 26 warga yang tersebar di beberapa dusun di desa Sudimara. (jon)

Back to top button