
KUTSEL – Warga di Perumahan Raya Kampial, Lingkungan Menesa, Kelurahan Benoa, Kuta Selatan, mengeluhkan suplai air bersih Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mangutama Kabupaten Badung.
Pasalnya, sudah sejak beberapa hari terakhir mengalami gangguan, hingga kebutuhan mereka harus dipenuhi dengan mobil tangki.
Ketua Perumahan Raya Kampial, Putu Arwata mengungkapkan, gangguan suplai air bersih sudah terjadi sejak sekitar 3 hari lalu. Bahkan itupun dirasakan oleh warga perumahan yang bermukim pada titik terendah.
“Sudah tiga hari. Yang dapat air hanya warga pada posisi terendah. Tapi itupun kecrat-kecrit. Sementara yang di tempat tinggi, itu mati total,” ucapnya.
Arwata mengaku tidak tahu penyebab dari gangguan yang terjadi. Namun demikian, dia mengaku tetap berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan warga melalui komunikasi langsung dengan jajaran direksi Perumdam Badung.
“Memang sudah ada bantuan mobil tangki. Tapi itu tidak bisa maksimal,” sebutnya.
Disampaikannya pula, sekitar 300 KK warga Perumahan Raya Kampial menjadi korban ‘krisis’ air bersih. Sehingga bantuan 2 mobil tangki, dirasa masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga.
“Kalau ada tambahan lagi 5 tangki, mungkin bisa kita taruh per blok, sehingga bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan warga, paling tidak selama dua hari,” sambungnya.
Krisis air bersih, sambung dia, sesungguhnya sudah pernah dirasakan dahulu sekitar awal tahun 2016. Bahkan kondisi tersebut dirasakan dalam kurun waktu yang amat panjang.
“Saat itu, saya bersama tim mohon bantuan dari PDAM dan diberikan mobil tangki. Mobil tangki kita bagi, sehingga warga bisa bertahan selama 2 hari. Sementara sekarang, hanya diberikan seperti ini, jadi tidak bisa. Saya sudah coba komunikasikan lagi dengan direksi, tapi tidak ada jawaban apa. Airnya mati karena apa, juga kami tidak tahu,” pungkasnya.
Sementara ketika dikonfirmasi, Direktur Teknik Perumdam Badung, Made Suarsa tidak memungkiri adanya gangguan yang terjadi. Penyebabnya, yaitu tingginya serapan atau pemakaian sejak beberapa hari terakhir. Yang disinyalir berkaitan pula dengan pelaksanaan KTT AIS.
“Serapan di kawasan Nusa Dua itu naik, sehingga ada beberapa wilayah yang terganggu. Kalau serapan di bawah naik, pasti yang di atas akan terdampak,” ungkapnya.
Suarsa tidak memungkiri bahwa pihaknya belum bisa berbuat banyak untuk menyikapi persoalan yang terjadi saat ini. Mengingat produksi pada tiga sumber, terbilang sudah mentok. Baik itu di Estuary, Belusung, ataupun Petanu.
Untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak saat ini, Perumdam Badung dipastikan siap untuk mensuplai air bersih dengan mobil tangki. 4 unit mobil tangki disiagakan, untuk hilir mudik mensuplai air bersih kepada warga membutuhkan.
Namun guna mengantisipasi terulangnya kejadian serupa, Suarsa menegaskan bahwa pihaknya sedang melakukan proyek peningkatan produksi. Langkah tersebut masih dalam tahap pengerjaan, dan ditarget rampung pada akhir Oktober mendatang.
“Kami mengejar akhir Oktober ini sudah selesai, sehingga November atau Desember sudah bisa dipergunakan,” sambungnya.
Jikapun kini sudah rampung, Suarsa menyebut bahwa bisa saja suplai air menuju daerah tinggi tetap tidak bisa maksimal. Karena kebetulan, kondisi air baku juga terbatas, berkenaan dengan musim kemarau saat ini. (adi/jon)








