
KUTSEL – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menyelenggarakan Seminar Keselamatan Nuklir (SKN) di Universitas Udayana (Unud), Senin (11/9/2023). Kegiatan yang dirangkaikan dengan pameran produk nuklir tersebut terlaksana atas kolaborasi dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unud.
SKN kali ini mengangkat tema ‘Peningkatan Keselamatan dan Keamanan Instalasi Nuklir dan Sumber Radiasi Pengion untuk Mendukung Daya Saing Produk Nuklir dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat’. Melalui tema tersebut diharapkan dapat menguatkan, menumbuhkan, dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap keselamatan pekerja, masyarakat, dan lingkungan, seiring meningkatnya penggunaan tenaga nuklir dan pembuatan produk nuklir dan komponennya di dalam negeri.
Plt Kepala Bapeten, Sugeng Sumbarjo mengungkapkan, ada beberapa isu yang diangkat dalam kegiatan tersebut. Di antaranya yakni, pemanfaatan teknologi nuklir untuk bidang kesehatan dan kegiatan yang terkait perizinan maupun penyiapan SDM di bidang kesehatan. Selain itu juga berkaitan dengan target Net Zero Emission tahun 2060.
“Saat ini sedang digodok dengan DPR yakni adanya rancangan undang-undang energi baru dan energi terbarukan. Dimana nuklir itu masuk sebagai energi baru di sana. Dengan itu, maka kemungkinan kita membangun PLTN itu sangat besar. Terbuka lebar baik secara legal maupun teknis,” ucapnya sembari mengatakan bahwamelalui seminar yang dilaksanakan itu pihaknya mencoba melihat kemampuan nasional dalam menghadapi introduksi PLTN.
Sementara terpisah, Wakil Rektor Bidang Perencanaan Kerja Sama dan Informasi Unud, Prof Dr dr I Putu Gede Adiatmika MKes menegaskan, Unud tentu memandang penting kerja sama dengan Bapeten. Hal tersebut seiring pula dengan dibukanta Konsentrasi Fisika Medis, Program Studi Fisika FMIPA.
Dia kemudian menjelaskan, Fisika Medis memiliki kompetensi terhadap energi nuklir, khususnya pada pemanfaatan nuklir dalam bidang medis. Seperti modalitas radiodiagnostik (Rontgen, CT-Scan, Fluoroskopi, mamografi dll), Radioterapi (Teleterapi Cobalt, LINAC, Brachyterapi dll) dan Kedokteran Nuklir (PET, SPECT, Radiofarmaka dll).
“Modalitas ini hampir telah terdapat di semua rumah sakit pemerintah maupun swasta di Bali. Dengan demikian sangat dibutuhkan seorang Fisikawan Medik di rumah sakit untuk memastikan keselamatan dan keamanan terhadap radiasi nuklir ini,” ucapnya. (adi/jon)








