
KUTA – Desain baru tembok penyengker Pantai Kuta mendapat perhatian dari pihak Desa Adat Kuta. Bagian atasnya yang datar, dikhawatirkan malah disalahfungsikan oleh pengunjung sebagai tempat duduk-duduk.
Karena itulah pihak desa adat kemudian melayangkan usulan penambahan ornamen pada bagian atasnya.
Hal tersebut dibenarkan adanya oleh Ketua Tim Penataan Pantai Desa Adat Kuta, I Gusti Anom Gumanti. Kata dia, usulan itu lahir dari hasil peninjauan lapangan yang dilakukan pada Jumat (2/6/2023) lalu.
“Memang kalau dari timur tembok itu masih terlihat tinggi. Tapi coba lihat dari arah barat, itu pendek. Di samping itu, bagian atasnya juga kami lihat flat (datar),” ungkapnya.
Jika dibiarkan, maka itu dipandang rawan disalahgungsikan. Yakni dijadikan tempat duduk-duduk oleh para pengunjung pantai.
“Coba anda bayangkan, ketika anda melintas di jalan pantai, di atas tembok pemandangan yang terlihat hanya pantat saja. Bagaimana estetikanya? Kan percuma biaya besar yang dikeluarkan kalau hasilnya begitu,” ungkapnya.
Itulah makanya pihaknya melayangkan usulan penambahan ornamen kepada Pemerintah Kabupaten Badung. Ornamen tersebut berupa susunan bata stik merah yang membuat bagian atas tembok jadi terkesan lebih runcing, sehingga meminimalisir kemungkinan untuk diduduki.
“Jadi ini sekaligus untuk memproteksi tembok itu agar tidak cepat rusak,” imbuhnya.
Di samping penambahan ornamen dimaksud, sambung Anom Gumanti, juga diusulkan pengurangan terhadap jumlah pintu keluar/masuk pantai. Dari awalnya berjumlah 31, menjadi hanya 17 pintu saja.
“Ketika kita diberikan pengelolaan, tentu aspek pengawasan perlu diperketat. Ini demi memelihara, memaintenance, dan menjaga dari apa yang sudah dibangun pemerintah. Kalau gate-nya banyak, tentu akan sulit dari sisi keamanannya,” ucapnya mengenai usulan yang katanya sudah diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Badung pada Senin (5/6/2023) lalu itu.
“Yang jelas itu sudah kita usulkan. Tapi keputusannya tidak tahu akan seperti apa,” imbuhnya. (adi/jon)








