
KUTA UTARA – Sampah kiriman di periode kali ini banyak yang menepi di area pantai di wilayah Kuta Utara seperti Petitenget. Bahkan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, peningkatan terbilang sangat tinggi.
Koordinator Evakuasi Dini Sampah Laut (Desalut) DLHK Badung I Made Gde Dwipayana menyampaikan, untuk periode tahun sebelumnya, kebanyakan sampah menepi di bentang pantai Seminyak, Legian, dan Kuta (Samigita). Sedangkan untuk kali ini, kecenderungan juga banyak yang menepi di Pantai Petitenget. Sebelumnya, datangnya sampah di Pantai Petitenget tidak lebih dari 50 truk atau 100 ton. Sedangkan tahun ini, jumlahnya meningkat menjadi 300 truk atau 600 ton.
“Tahun ini memang di Pantai Samigita dan Petitenget paling banyak dihampiri sampah kiriman. Jadi sekarang bisa dibilang bertambah konsentrasi evakuasi,” ucapnya.
Secara umum di pantai barat Kabupaten Badung, datangnya sampah kiriman diakui sempat melandai. Namun sejak sepekan terakhir, kembali mengalami lonjakan. Bahkan yang datang adalah jenis sampah berupa kayu besar. Itu terjadi utamanya pada bentang Pantai Kuta.
Terpisah, Kepala Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun DLHK Kabupaten Badung AA Gede Dalem membenarkan bahwa datangnya sampah kiriman pada periode kali ini cenderung fluktuatif. Mengingat hal tersebut menurut dia sangat bergantung pada faktor cuaca dan pergerakan arus laut.
“Sampai saat ini Kuta yang banyak didatangi sampah kiriman. Karena di sana arusnya berputar di sekitar gerbang candi bentar ke selatan. Untuk kemarin saja, dari sana kami evakuasi 30 truk,” ucapnya.
Lebih lanjut disampaikannya pula, pada periode tahun ini total sudah terevakuasi sebanyak 2500 ton sampah kiriman dari bentang pantai barat Kabupaten Badung. Jumlah tersebut terbilang masih lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya, yang mencapai 4.600 ton.
“Kemungkinan jumlah sampah kiriman tahun ini hampir sama dengan sebelumnya. Karena perkiraan kami masih tersisa 2 bulan lagi sebelum berakhirnya sampah kiriman,” pungkasnya. (adi/jon)








