
KUTA – 6 orang Guru Besar dikukuhkan dalam Upacara Rapat Senat Terbuka Universitas Udayana, Sabtu (29/1/2022). Mereka adalah Prof Dr dr I Dewa Made Sukrama MSi Sp MK(K), Prof Dr Ida Bagus Anom Purbawangsa SE MM, Prof Dr Tjokorda Gde Raka Sukawati SE MM, Prof dr I Made Ady Wirawan SKed MPH PhD, Prof Dr Ir I Wayan Budiasa SP MP, dan Prof Dr Ir Sri Mulyani MP (Alm).
Rektor Unud Prof Dr Ir I Nyoman Gde Antara MEng IPU mengatakan, kesehatan dan keselamatan adalah sebuah prioritas yang tidak bisa ditawar. Karena itulah, menyikapi kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini, kegiatan tersebut digelar secara hybrid.
“Mewakili seluruh civitas akademika Unud, mengucapkan selamat atas keberhasilan peraih gelar akademik tertinggi kepada Guru Besar Tetap yang dikukuhkan,” sebutnya.
Dikatakan dia, teknologi yang berkembang pesat mengharuskan untuk siap menghadapi perubahan dunia, termasuk dalam bidang pendidikan. Salah satu bentuk perubahan dimaksud yakni society 5.0, yang merupakan perkembangan dari revolusi industri 4.0.
“Revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Sedangkan society 5.0 memfokuskan pada komponen teknologi dan kemanusiaannya. Pendidikan memiliki peranan dalam perkembangan society 5.0, yaitu untuk memajukan sumber daya manusia yang berkecakapan, mampu berpikir kritis, bernalar, kreatif, komunikatif, kolaboratif, dan memiliki kemampuan problem solving,” ungkapnya.
Dipastikan dia, Unud sendiri telah melakukan langkah untuk mendukung era society 5.0. Yaitu dengan mendorong dan terus memotivasi seluruh dosen yang telah memenuhi syarat menjadi Guru Besar.
“Pada bulan Oktober tahun 2021 lalu, Universitas Udayana telah mengukuhkan 14 orang Guru Besar Tetap. Dengan penambahan pada hari ini, maka kini kita telah memiliki 175 orang Guru Besar Tetap yang tersebar pada 11 fakultas dari 13 fakultas di lingkungan Unud,” bebernya sembari mengatakan bahwa itu notabene sudah melampaui batas minimal yang dipersyaratkan.
Dikatakannya pula, kini sedikitnya ada 418 orang Lektor Kelala yang didorong untuk menjadi Guru Besar. Itu dibarengi dengan perbaikan manajemen pengusulan Guru Besar, tim penilai jabatan akademik dosen, serta pengaplikasian teknologi informasi. “Ini akan memudahkan dan mempercepat usulan menjadi Guru Besar,” sambungnya.
Dalam kesempatan itu pula, Rektor juga mengungkapkan persentase jabatan akademik dosen Unud tahun 2022. Yang terdiri dari Tenaga Pengajar sebanyak 4%, Asisten Ahli sebanyak 15%, Lektor sebanyak 38%, Lektor Kepala sebanyak 31%, dan Guru Besar sebanyak 13%. Sementara untuk total Lektor Kepala bergelar Doktor berada pada angka 359 dosen atau 19%, sedangkan jumlah total dosen PNS sebanyak 1.360 orang.
“Hampir setiap tahun terdapat Guru Besar memasuki masa purna tugas. Hal ini harus diantisipasi dengan langkah strategis, agar dosen yang sudah bergelar Doktor berupaya meningkatkan statusnya menjadi Guru Besar,” imbuhnya.
Melalui koordinasi dengan Senat Unud, Rektor juga mengabarkan bahwa mulai tahun ini akan dibentuk Forum Guru Besar. Anggotanya tiada lain adalah seluruh Guru Besar di lingkungan Unud. “Dari 175 orang Guru Besar di Unud, kurang lebih ada 80 orang di antaranya yang sudah menjadi anggota Senat. Kepada sisanya, komunikasi dan koordinasi tentu harus tetap kita jaga, sehingga bisa ikut berkontribusi secara optimal dalam memajukan Universitas Udayana. Karena itulah mulai tahun ini kami sudah membentuk Forum Guru Besar,” ucapnya sembari berharap agar forum tersebut nantinya dapat memberikan manfaat, utamanya dalam rangka pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Mudah-mudahan forum ini dapat segera bisa berkolaborasi, berkontribusi, dan berkoordinasi dengan kami, sehingga apa yang menjadi tujuan kita bersama bisa kita lakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Forum ini nantinya kami harapkan dapat memberikan masukan-masukan dalam bidang akademik ataupun non akademik,” ucapnya seraya mengingatkan para Guru Besar yang baru dikukuhkan, agar senantiasa mampu mengemban tugas dengan sebaik-baiknya. Mengingat di balik jabatan tersebut, mengandung makna serta tuntutan tanggung jawab yang lebih besar. Seorang Guru Besar harus mampu menjadi teladan, mengayomi, serta memberikan solusi terhadap permasalahan yang timbul di masyarakat.
Untuk diketahui pula, pengukuhan tersebut turut dihadiri oleh Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. Selain sebagai Wakil Gubernur Bali, kehadirannya sekaligus sebagai keluarga dari salah satu peserta pengukuhan.
“Ini hari yang sangat luar biasa bagi saya. Karena adik saya yang lagi satu, bisa sudah meraih jabatan Guru Besarnya pada hari ini,” sebutnya.
Dia berharap, pengukuhan tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi segenap masyarakat Bali, bahwa pendidikan tidak ada hentinya. Dan usia, bukanlah alasan untuk berhenti belajar.
“Pengukuhan Guru Besar adalah acara rutin yang digelar di setiap universitas. Namun untuk kali ini memang ada yang berbeda, karena berada di tengah-tengah situasi pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, ada banyak keluarga yang tidak bisa datang langsung,” tutupnya. (adi/jon)








