
DENPASAR – Hampir lima puluh tahun lalu, sebuah gagasan lahir dari keyakinan bahwa kebudayaan Bali harus memiliki panggungnya sendiri. Bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan tempat di mana tradisi diwariskan, kreativitas tumbuh, dan identitas Bali terus diperkuat dari generasi ke generasi.
Gagasan itu kemudian menjelma menjadi Pesta Kesenian Bali (PKB), sebuah perhelatan seni tahunan yang kini memasuki usia hampir setengah abad. Dalam rentang waktu tersebut, PKB bukan hanya bertahan, tetapi terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.
Perjalanan panjang itu menjadi pembahasan dalam Diskusi Budaya Kawiya Bali dan PWI Provinsi Bali #4 yang digelar di Gedung Perpustakaan, Taman Budaya Bali, Jumat (3/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian PKB XLVIII Tahun 2026.
Dua tokoh yang menjadi saksi hidup perjalanan PKB sejak awal, I Made Bandem dan I Wayan Dibia, mengajak peserta menelusuri jejak perjalanan PKB yang mereka petakan ke dalam lima periode besar. Diskusi dipandu wartawan sekaligus Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Provinsi Bali, I Nyoman Winata.
Bagi kedua budayawan tersebut, sejarah PKB bukan sekadar pergantian kepemimpinan pemerintahan, melainkan perjalanan evolusi kebudayaan Bali.
Periode pertama dimulai pada masa Gubernur Bali almarhum Prof. Ida Bagus Mantra. Di tangan tokoh inilah benih PKB ditanam. Festival seni itu lahir sebagai jawaban atas kebutuhan menjaga sekaligus mengembangkan seni budaya Bali agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Memasuki masa kepemimpinan almarhum Ida Bagus Oka, PKB memasuki fase konsolidasi. Identitas kebudayaan Bali diperkuat, sementara penyelenggaraan festival semakin tertata sebagai agenda budaya yang memiliki arah yang jelas.
Era Gubernur Dewa Made Beratha menghadirkan warna baru. PKB semakin dekat dengan masyarakat. Ruang partisipasi terbuka lebih luas bagi para seniman, sanggar, komunitas adat, hingga generasi muda. Festival tidak lagi hanya menjadi milik pemerintah, tetapi menjadi ruang bersama masyarakat Bali.
Perjalanan kemudian berlanjut pada masa Gubernur Made Mangku Pastika. Di periode ini, PKB berkembang menjadi instrumen diplomasi budaya. Berbagai festival seni dan jejaring kebudayaan diperkuat sehingga kesenian Bali semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Kini, pada masa Gubernur Wayan Koster, arah pengembangan PKB bergeser menuju pembangunan ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Penguatan regulasi, perlindungan adat, tradisi, seni, dan budaya menjadi fondasi agar kebudayaan Bali tetap lestari di tengah derasnya arus globalisasi.
Menurut Prof. Bandem dan Prof. Dibia, lima periode tersebut bukan menunjukkan adanya perbedaan tujuan, melainkan tahapan yang saling melengkapi.
“Setiap periode memiliki karakteristik dan fokus yang berbeda, tetapi semuanya saling melengkapi dalam memperkuat eksistensi PKB sebagai wahana pelestarian seni dan budaya Bali,” ujar keduanya.
Bagi mereka, keberhasilan PKB tidak hanya diukur dari konsistensinya diselenggarakan setiap tahun. Yang lebih penting adalah kemampuannya melahirkan regenerasi seniman, memperkokoh identitas budaya Bali, sekaligus menempatkan Pulau Dewata sebagai salah satu pusat kebudayaan yang diperhitungkan di Indonesia bahkan dunia.
Menjelang usia emas 50 tahun, PKB telah menjadi lebih dari sekadar festival. Ia adalah cermin perjalanan masyarakat Bali dalam menjaga warisan leluhur, merawat kreativitas, dan membuktikan bahwa tradisi tidak pernah berhenti tumbuh. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, PKB terus menyalakan api kebudayaan Bali agar tetap hidup, lestari, dan relevan sepanjang zaman. (*)








