
KUTSEL – Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana pesisir, kolaborasi peneliti lintas negara menggelar workshop Stress Test di Tanjung Benoa. Kolaborasi ini melibatkan Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Bristol, Western University of Canada, University College London (UCL) UK, serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tanjung Benoa. Dalam workshop tersebut, para peserta terlibat aktif dalam dialog partisipatif mengenai “Skenario Ketangguhan Menghadapi Bencana”.
Peneliti Utama Bersama dari Tim Indonesia, Dr. Mohammad Farid menjelaskan bahwa kegiatan stress test ini bertujuan untuk menguji keandalan sistem yang ada dalam menghadapi situasi darurat. Melalui workshop ini, tim peneliti mencoba mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang sudah ada di masyarakat.
Dengan melibatkan profesional dan pemerintah, semua komponen akan dievaluasi kekuatannya demi mengintegrasikan sistem peringatan dini, koordinasi, dan evaluasi yang lebih solid.
Dipilihnya Tanjung Benoa sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. Wilayah pesisir di kaki Pulau Bali ini telah menyandang predikat sebagai Tsunami Ready Community dari UNESCO-IOC. Menurut Farid, kegiatan ini merupakan wujud kontribusi nyata dalam menguji sekaligus mempertahankan predikat internasional tersebut. Hasil dari workshop ini diharapkan mampu memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai bencana pesisir, mulai dari tsunami hingga potensi ancaman lain seperti banjir rob.
Secara umum, Farid menilai Tanjung Benoa merupakan wilayah yang sangat siap dan sudah dilengkapi dengan pemetaan titik-titik evakuasi yang matang. Namun, kesiapsiagaan tersebut harus tetap dirawat dan ditingkatkan secara berkelanjutan. Ia mencontohkan negara maju seperti Jepang, juga tetap melakukan perbaikan terus-menerus terhadap sistem kebencanaan mereka dengan belajar dari peristiwa-peristiwa terdahulu.
Gelaran ini disambut antusias oleh Ketua FPRB Tanjung Benoa, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, S.Sn., M.Si. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperluas kesiapan wilayahnya terhadap skenario bencana yang lebih kompleks, termasuk mitigasi untuk bencana lain seperti banjir dan tanah longsor. Selain simulasi saat bencana, workshop ini juga membedah strategi penanganan hingga pemulihan pascabencana. Deddy mengaku bangga karena Tanjung Benoa kini bukan hanya dikenal dengan wisata baharinya, tetapi juga mulai berkembang sebagai destinasi Edu-Wisata Mitigasi Bencana.
Sepengetahuan dia, workshop Stress Test ini sendiri merupakan kelanjutan dari Asset Mapping Workshop yang telah dilaksanakan pada tahun 2025 silam. Pada kegiatan sebelumnya, tim telah memetakan keberadaan kulkul, alat komunikasi tradisional Bali, yang bisa dijadikan sebagai alternatif sirene peringatan dini tsunami berbasis kearifan lokal. Ke depan, skenario yang dihasilkan dari workshop ini akan dibawa ke forum internal FPRB, untuk dilatih dan diterapkan secara langsung oleh masyarakat setempat. (adi)








