
GIANYAR – Desa Adat Tegallantang, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar menggadakan rangkaian upacara sakral hampir satu bulan lamanya. Diawali dengan ritual ngodakin (perbaikan) sejumlah prelingga Ida Bhatara hingga pementasan calonnarang dengan lakon Bahula Duta dan Ida Sesuhunan Napak Pertiwi di Pura Dalem Tegallantang.
Kegiatan ngodakin ini diadakan setelah 11 tahun lamanya, prelingga Ida Bhatara terakhir diperbaiki. Pelaksanaannya diawali dengan ritual nebas pada 11 Mei 2026.
Adapun prelingga yang diperbaiki seperti Prelinggaa Ratu Lingsir (Rangda), Ratu Sakti (Rangda), dan Ratu Gede (Barong Macan).
“Proses ngodak tersebut dipercayakan kepada sangging Ida Cokorda Gede Barong dari Banjar Yeh Tengah, Kelusa, Payangan, Gianyar,” tandas Bendesa Adat Tegallantang I Gusti Gde Suradnya, SH, Minggu (7/6/2026).
Setelah ngodak selesai, upacara dilanjutkan ke tahap sakral berikutnya, yakni ritual Pasupati yang dilaksanakan pada 25 Mei 2026.
“Kami juga senantiasa meminta petunjuk, tuntunan, serta pendampingan langsung dari para Panglingsir (tokoh tetua) Puri Saren Agung Ubud lan Sesari Sesari Puri Ubud,” ujarnya.
Setelah puncak upacara sakralisasi itu, sebagai wujud bakti dan rasa Syukur, warga mengadakan upacara pujawali atau piodalan disertai pertunjukan calonarang serta Ida Sesuhunan napak pertiwi, Kamis (4/6/2026).
Rangkaian Ngodakin, Pujawali hingga pementasan calonarang serta Ida Seuhunan napak pertiwi merupakan momentum bagi warga Desa Adat Tegallantang untuk memperkuat srada bakti, menjaga keseimbangan alam sekala niskala, mempererat persaudaraan serta meneguhkan komitmen dalam menjaga dan melestarikan warisan leluhur yang menjadi jati diri Desa Adat Tegallantang. (dar,yan)








