
BULELENG – Manajemen Handara Golf & Resort Bali memberikan klarifikasi atas isu yang berkembang di media sosial yang mengaitkan aktivitas operasional resort dengan peristiwa banjir di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
Pihak Handara menegaskan bahwa banjir yang terjadi merupakan bencana alam atau force majeure akibat tingginya curah hujan di kawasan pegunungan, bukan disebabkan oleh aktivitas usaha mereka.
Legal Handara Golf & Resort Bali, Evy Krisna, menjelaskan bahwa Desa Pancasari sejak lama dikenal memiliki potensi banjir dan longsor musiman. Kondisi tersebut, kata dia, merupakan karakter geografis alami wilayah dataran tinggi yang telah dipahami masyarakat setempat selama puluhan tahun.
“Banjir ini adalah risiko alam yang berdampak luas. Tidak hanya permukiman warga, tetapi juga fasilitas resort, area operasional, hingga rumah karyawan Handara ikut terdampak,” ujar Evy Krisna, Minggu (18/1/2026).
Handara yang telah beroperasi hampir lima dekade di Pancasari menyayangkan munculnya tuduhan sepihak dari seorang pemilik tanah dan bangunan bernama Reydi Nobel. Menurut Evy, tuduhan tersebut tidak mempertimbangkan aspek ekologis serta sejarah panjang kawasan Pancasari yang rawan bencana hidrometeorologi.
Ia juga menyebut pihak yang melayangkan tudingan merupakan pendatang relatif baru di wilayah tersebut, sehingga dinilai belum sepenuhnya memahami dinamika lingkungan pegunungan sebagaimana warga lokal.
“Tentu persepsi bisa berbeda jika belum lama tinggal dan beraktivitas di kawasan ini. Warga Pancasari yang sudah lama menetap memahami bahwa banjir merupakan risiko alam tahunan,” katanya.
Menanggapi isu tanggung jawab sosial perusahaan, Handara turut meluruskan informasi terkait pembangunan jembatan di wilayah desa. Evy menegaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sosial atas permintaan resmi Pemerintah Desa Pancasari.
“Jembatan itu bukan aset Handara dan tidak berada dalam pengelolaan kami. Pembangunannya murni untuk kepentingan masyarakat desa, bukan kewajiban hukum, melainkan kontribusi sosial,” jelasnya.
Sebagai destinasi wisata ikonik di Bali, Handara menegaskan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan. Desain lapangan golf dengan bentangan area hijau dan penggunaan rumput lokal justru berfungsi sebagai daerah resapan air alami.
Area hijau tersebut dinilai berperan penting dalam menahan dan memperlambat aliran air dari kawasan pegunungan sebelum mencapai permukiman warga di wilayah bawah.
“Handara adalah bagian dari komunitas Desa Pancasari. Kami berkomitmen menjaga keseimbangan ekosistem dan hidup berdampingan dengan lingkungan,” tutup Evy Krisna. (sur)








