
BADUNG – Bank Sampah Legian Aksi Nyata Lingkungan (BSLAN) di Legian Kaja menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa bersemi bahkan di tengah kawasan yang identik dengan hiruk-pikuk wisata. Digawangi oleh ibu-ibu setempat, wadah ini konsisten membudayakan pengelolaan dan pengolahan sampah secara mandiri.
Ketika persoalan sampah kian kompleks, BSLAN memilih tak tinggal diam. Sejak dirintis pada 2016 silam, berbagai pola edukasi terus dikembangkan demi menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Sosok Ni Wayan Margiani menjadi salah satu figur sentral di balik keberlanjutan gerakan ini. Dihubungi pada Selasa (13/1/2026), Margiani menuturkan bahwa BSLAN kini tak lagi sekadar menyasar sampah anorganik bernilai ekonomi. Perlahan namun pasti, pengolahan sampah organik pun mulai digarap secara serius.
Melalui kerja sama dengan Bali Wastu Lestari, para nasabah BSLAN diedukasi untuk mengolah sampah organik menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dengan memanfaatkan tong komposter. Hasil panen POC tersebut tak hanya berguna untuk perawatan kebun masing-masing, tetapi juga dapat dikonversi menjadi nominal tabungan di BSLAN.
Terobosan ini mulai digiatkan sejak Oktober tahun lalu. Margiani menyebutkan, saat ini sedikitnya sudah ada 50 nasabah yang aktif menjalankan pola pengolahan sampah organik tersebut. Bahkan, dalam satu periode terakhir, tercatat sebanyak 640 liter POC berhasil ditabung oleh warga, untuk kemudian disalurkan BSLAN kepada Bali Wastu Lestari.
“Saya pribadi, sesungguhnya sudah melakukan pengelolaan dan pengolahan sampah organik menjadi POC ini sejak satu tahun sebelumnya. Saya masukkan sampah bekas makanan, daun-daun, dan bunga-bunga bekas canang ke dalam tong komposter, dan kemudian dilanjutkan dengan pengisian bioaktivator. Nah, sejak ada kabar rencana penutupan TPA Suwung, mulailah saya giatkan edukasi kepada masyarakat untuk dapat melakukan langkah serupa,” tutur Margiani.
Pada awalnya, POC yang dihasilkan memang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pupuk kebun pribadi. Namun seiring waktu, produksi yang dihasilkan justru melimpah. Kelebihan inilah yang kemudian ditabung melalui bank sampah, memperluas makna “menabung” dalam konteks lingkungan.
“Terhitung dari awal, sudah dua kali kami melakukan jemput bola untuk POC yang dihasilkan nasabah. Pertama itu di bulan Oktober 2025, yang mana jumlah produksi berlebihnya ada pada angka 50-an liter. Karena memang, ketika itu hanya ada 6 orang nasabah yang punya tong komposter. Sedangkan pada kali kedua ini, peningkatannya drastis ke angka 640 liter, karena sudah ada 50 nasabah yang punya tong komposter,” bebernya.
Margiani berharap kebiasaan baik ini dapat terus bertumbuh, bukan semata karena nilai rupiah yang dihasilkan, tetapi demi menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari. Ia mengenang, BSLAN bermula dari 12 orang saja pada 2016. Kini, jumlah nasabah telah mencapai ratusan, tak hanya dari kalangan masyarakat, tetapi juga pelaku usaha di wilayah Legian Kaja. Seiring waktu, jenis sampah yang dikelola pun kian beragam, dari kardus, botol plastik, dan kertas, hingga minyak jelantah dan hasil panen tong komposter.
Sebagai pemantik semangat, Margiani mengungkapkan bahwa sudah ada nasabah yang memiliki tabungan hingga belasan juta rupiah, murni dari hasil menabung sampah selama setahun terakhir. “Si nasabah sendiri bahkan sampai tidak percaya bahwa dirinya punya saldo tabungan hasil dari mengelola sampah hingga belasan juta,” sebutnya.
Meski demikian, ia tak menampik bahwa tantangan terbesar terletak pada mengajak masyarakat untuk terlibat aktif. Masih ada anggapan bahwa persoalan sampah sepenuhnya merupakan tanggung jawab pemerintah.
“Penanganan sampah adalah tugas bersama. Harus ada kolaborasi antara semua pilar, baik masyarakat, dunia usaha, maupun pemerintah. Pemerintah siapkan polanya, masyarakat yang menjalankan. Seperti di Jepang yang pengelolaan sampahnya sudah diakui dunia, itu pemilahan sampahnya diberlakukan dengan sangat ketat. Siapa yang memilah, tentu masyarakat itu sendiri,” pungkasnya. (adi)








