
BADUNG – Sepekan terakhir, hujan es terjadi di Desa Pelaga, Badung dan Desa Tista, Kecamatan Busungbiu, Buleleng.
Kepala Bidang Data dan Informasi Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar Iman Fatchurochman menjelaskan, hujan es atau hail merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi. Kemunculannya dipengaruhi oleh terbentuknya awan konventif Cumulonimbus (Cb).
“Dari awan Cb itu bisa jadi hujan lebat, bisa juga hail, bisa juga angin kencang (downburst), bisa juga petir, dan bisa juga angin puting beliung. Lalu, kapan awan Cb menimbulkan hail ? jika puncak awan melewati suhu bekunya atau suhu negatif dan terus-menerus terjadi penggabungan butir-butir es yang cukup banyak pada awan Cb hingga terbentuklah butiran-butiran es yang cukup besar, yang kemudian jatuh ke bumi,” jelasnya.
Ketika jatuh, butiran-butiran es tersebut mencair karena mengalami gesekan dengan udara. Namun, karena mencairnya tidak sempurna, maka menyisakan butiran es sebesar biji kelerang. “Terbentuknya awan Cb ini bisa terjadi kapan saja, terutama pada masa pancaroba, baik itu transisi dari kemarau ke hujan ataupun sebaliknya. Namun memang, tidak tertutup kemungkinan juga terjadi di musim hujan,” ujarnya. .
Hail sendiri biasanya terjadi dalam waktu singkat, antara tiga hingga lima menit atau bisa juga 10 menit tapi itupun jarang. Apakah terbentuknya awan Cb ada kaitannya dengan udara gerah yang hampir dirasakan di seluruh Bali ? “Itu bisa saja terjadi. Kondisi gerah belakangan ini terjadi karena terhambatnya pelepasan radiasi panas matahari dari bumi oleh awan, termasuk awan Cb,”ungkapnya.
Menurutnya, udara gerah yang belakangan terasa di Bali disebabkan oleh gerak semu matahari yang saat ini berada di selatan Equator dan Bali sendiri adalah wilayah yang termasuk berada di selatan Equator. Karenanya, intensitas panas di Bali saat ini menjadi lebih tinggi ketimbang ketika posisi matahari berada di utara Equator. (adi)








