
KARANGASEM – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karangasem mencatat 161 hektar lahan persawahan beralih fungsi menjadi bangunan sepanjang tahun 2024. Terbanyak di wilayah Kecamatan Sidemen yang notabene dikenal sebagai lumbung padi.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Distan Karangasem, Gede Suata Brata, menyebut alih fungsi lahan sawah cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Penyebabnya beragam, mulai dari kebutuhan perumahan, pembangunan fasilitas umum, hingga alasan petani menjual lahan karena kesulitan mengelola sawah.
“Kami berharap petani tetap mempertahankan sawahnya. Jangan sampai lahan produktif hilang hanya karena tergiur pembangunan. Saat pemerintah berupaya memperkuat ketahanan pangan, keberadaan sawah justru semakin berkurang,” ujar Gede Suata Brata, Selasa (24/9/2025).
Saat ini, Karangasem memiliki 7.022 hektar sawah aktif. Luas tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk mencapai lebih dari 522 ribu jiwa.
Data produksi menunjukkan hasil padi Karangasem hanya sekitar 65 ribu ton gabah kering giling per tahun. Jika diolah menjadi beras, jumlahnya hanya sekitar 39 ribu ton, jauh di bawah kebutuhan riil masyarakat.
Dengan konsumsi beras per kapita mencapai 111,88 kilogram per tahun, kebutuhan beras masyarakat Karangasem mencapai lebih dari 58 ribu ton per tahun.
Artinya, terdapat defisit yang cukup besar. Untuk menutupinya, masyarakat tidak hanya mengandalkan beras, melainkan juga pangan lokal lainnya seperti jagung, ubi jalar, kacang tanah, hingga kedelai.
“Kalau dihitung dari semua jenis pangan, Karangasem sebenarnya masih surplus. Tetapi, untuk beras sebagai makanan pokok, kita tetap mengalami kekurangan,” ungkapnya.
Fenomena alih fungsi lahan dikhawatirkan berdampak pada ekosistem, cadangan air, serta mempersempit lapangan kerja petani. Pemerintah daerah berupaya menekan laju penyusutan sawah dengan memberikan benih gratis dan menargetkan penanaman padi lebih dari 15 ribu hektardengan harapan produksi bisa ditingkatkan sekaligus memotivasi petani agar tetap menggarap sawahnya.
“Menjaga sawah bukan hanya tugas petani, tetapi kepentingan bersama. Jika sawah habis, generasi mendatang akan kehilangan sumber pangan dan identitas pertanian Karangasem,” tegas Suata Brata. (wat)








