
KUTSEL – Upaya pengolahan sampah berbasis sumber kini terus digencarkan di wilayah Kecamatan Kuta Selatan. Langkah ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga melalui sinergi dengan berbagai pihak, termasuk swasta dan desa adat.
Salah satu contoh dapat dilihat di Lingkungan Celuk, Kelurahan Benoa. Di wilayah ini, atas dukungan Desa Adat Bualu, telah terbangun puluhan unit teba modern. Fasilitas tersebut diharapkan mampu mendukung pola penanganan sampah, khususnya sampah organik, langsung dari sumbernya.
Camat Kuta Selatan, Ketut Gede Arta, menyambut positif peran desa adat dalam upaya penanganan sampah tersebut. Apalagi diketahui, keterlibatan ini tidak hanya ditunjukkan oleh Desa Adat Bualu, tetapi juga oleh desa adat lainnya di wilayah Kuta Selatan. Hanya saja, bentuk implementasinya bisa berbeda, seperti penggunaan tong komposter atau bag komposter.
“Metode komposter ini terbukti sangat efektif mengurangi sampah. Karena sampah kita kebanyakan adalah sampah organik, bahkan hampir 70 persen. Kalau ini bisa diselesaikan dari sumber, tentu akan sangat membantu mengurangi sampah, baik itu yang akan dikirim ke TPS maupun TPST,” sebutnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, seluruh pihak ditegaskan wajib berpartisipasi. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga pihak swasta, desa adat, serta masyarakat secara mandiri. “Jadi semua harus bergerak. Karena ini yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif kita bersama. Tidak bisa hanya satu atau dua orang saja. Harus bersama-sama,” tegasnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa aspek keberlanjutan dan konsistensi juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Berkaitan dengan itu, pihak kecamatan bahkan menargetkan “Satu Rumah, Satu Komposter Aktif”. Kata “Aktif” menjadi penekanan, karena disadari bahwa sebuah fasilitas yang tidak dimanfaatkan, tidak akan memberikan hasil. “Sekarang ini kita tidak lagi bicara mau tidak mau, melainkan harus mau,” tegasnya. (adi)








