
TABANAN – Keheningan dan penghayatan menjadi napas utama dalam Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 yang digelar di Tegalmengkeb Art Space (TAS), Desa Tegalmengkeb, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan, Minggu (15/2/2026).
Mengusung tema “Kekuatan Cinta”, kegiatan ini diinisiasi oleh Tegalmengkeb Art Space bersama Pesraman Kayu Manis dan Luh Luwih Foundation. Sebanyak 40 peserta dari berbagai kalangan—mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, dosen hingga masyarakat umum—turut ambil bagian dalam lomba terbuka tanpa batas usia tersebut.
Ketua Panitia, I Gede Astika, menjelaskan bahwa lomba ini digelar secara swadaya dan swadana sebagai upaya menghidupkan kembali semangat berkesenian, khususnya sastra, di wilayah yang jauh dari pusat kegiatan seni. “Semoga lomba ini bisa berkelanjutan setiap tahun,” ujarnya.
Lomba dilaksanakan dalam dua tahap, yakni babak penyisihan dan final. Pada tahap awal, peserta mengirimkan video pembacaan puisi untuk dinilai dewan juri yang terdiri atas Wayan Jengki Sunarta, Dewa Jayendra, dan Muda Wijaya.
Dalam penyisihan, peserta membacakan satu puisi pilihan panitia, antara lain “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” karya Frans Nadjira, “Prelude” karya Umbu Landu Paranggi, “Senja Menggantung di Langit” karya Putu Vivi Lestari, “Warna Jiwa dalam Gerimis” karya I Wayan Arthawa, serta “Rumah Hening” karya Reina Caesilia.
Aspek penilaian meliputi ketepatan tafsir, penghayatan, vokal, ekspresi, dan totalitas penampilan. Dewan juri mencatat, sebagian peserta masih kurang mendalami makna puisi yang dibacakan. “Banyak peserta kurang memahami dan menghayati puisi yang dibacakannya,” kata Wayan Jengki Sunarta.
Sepuluh finalis kemudian diumumkan pada 10 Februari 2026 dan tampil langsung pada babak final di Tegalmengkeb Art Space, Minggu (15/2/2026) pukul 13.00 wita.
Pada babak final, seluruh peserta membacakan puisi wajib “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi, serta satu puisi pilihan yang sebelumnya dibawakan di penyisihan. Penampilan para finalis berlangsung ketat, dengan gaya yang beragam—dari pembacaan lirih hingga ekspresif.
Dewan juri menegaskan bahwa inti seni baca puisi terletak pada kedalaman pemahaman isi. Penghayatan, menurut mereka, tidak bisa dibuat-buat, melainkan lahir dari proses membaca dan merenungkan teks secara serius.
Pendiri Tegalmengkeb Art Space sekaligus Pinisepuh Pesraman Kayu Manis, Mahaprabhu Prahlada Pandya, menilai lomba ini menjadi ruang refleksi sekaligus tantangan bagi peserta untuk menghadirkan kembali kedalaman batin penyair melalui pembacaan mereka.
Sementara itu, Kepala Desa Tegalmengkeb, I Dewa Made Widarma, mengapresiasi inisiatif penyelenggara dalam menghidupkan kegiatan seni budaya di desa.
“Dengan kekuatan cinta, mari kita saling bersinergi membangun dan mempromosikan Desa Tegalmengkeb lewat kegiatan seni budaya,” ujarnya.
Setelah melalui musyawarah dewan juri, ditetapkan para pemenang sebagai berikut:
- Juara I: Desak Putu Ayu Dina Candradewi (Singaraja) – Rp 3 juta
- Juara II: I Gusti Agung Putu Sri Purnami Padmawati (Denpasar) – Rp 2 juta
- Juara III: I Putu Gede Pradipta (Denpasar) – Rp 1 juta
Juara Harapan diraih oleh Ni Made Pritalaras T Mas Jayanti (Jembrana), Ida Ayu Putri Krisna Dewi (Jembrana), Ni Made Dhimahi Shankari Dewi (Singaraja), Ardika Wiraga (Gianyar), Ni Putu Vidya Radhani (Denpasar), dan Jessica Kaila (Denpasar). Satu finalis, Desak Made Yunda Ariesta (Karangasem), mengundurkan diri karena sakit.
Selain uang pembinaan, para pemenang memperoleh piala dan piagam penghargaan. Pada babak final, panitia juga memberikan tambahan hadiah spontan sebesar Rp 200 ribu bagi masing-masing Juara Harapan.
Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang perjumpaan bagi mereka yang meyakini bahwa sastra tetap relevan di tengah perubahan zaman. Dari Tegalmengkeb, puisi kembali dirawat—bukan hanya sebagai kata-kata, tetapi sebagai kerja kebudayaan yang hidup. (sur)








