
DENPASAR – Perekonomian Provinsi Bali sepanjang tahun 2025 tumbuh positif, ditopang oleh sektor pariwisata, konsumsi masyarakat, serta pengelolaan fiskal daerah yang relatif stabil. Hal ini ditegaskan Staf Ahli Gubernur Bali Bidang Perekonomian dan Keuangan, I Wayan Ekadina.
Mantan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bali ini menjelaskan bahwa hingga triwulan III 2025, perekonomian Bali menunjukkan ketahanan yang solid di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
Pada triwulan III 2025, perekonomian Provinsi Bali tumbuh sebesar 5,88 persen (year on year/yoy). Meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,95 persen (yoy), capaian tersebut masih berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Bali terutama bersumber dari Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi, Makanan dan Minuman (Akmamin) serta Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran. Hal ini sejalan dengan masih tingginya kunjungan wisatawan, penjualan bahan konstruksi, serta penjualan bahan pangan, meskipun menunjukkan perlambatan.
Sementara dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Bali tetap ditopang oleh Ekspor Luar Negeri, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Kondisi ini tidak terlepas dari aktivitas pariwisata yang masih tumbuh tinggi dan menjadi motor penggerak utama perekonomian daerah.
Kata Ekadina, begitu juga linflasi daerah menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan terkendali. Pada triwulan IV 2025, inflasi Provinsi Bali tercatat sebesar 2,91 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,92 persen (yoy). Sebelumnya, pada triwulan III 2025, inflasi Bali berada pada level 2,51 persen (yoy) atau masih dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Penurunan tekanan inflasi tersebut didorong oleh terjaganya ketersediaan pasokan pangan serta berlanjutnya masa panen lokal, baik dari sentra produksi di Bali maupun dari luar daerah. Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi tertinggi, diikuti oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta kelompok pendidikan.
Ekadina menyinggung faktor sosial dan budaya, seperti pelaksanaan upacara keagamaan atau hari raya, yang turut memengaruhi inflasi. Namun ia menegaskan bahwa upacara agama bukan penyebab langsung inflasi, melainkan peningkatan kebutuhan masyarakat yang terjadi bersamaan dengan kegiatan tersebut.
“Bukan upacaranya yang menyebabkan inflasi, tapi kebutuhannya menjadi lebih banyak. Misalnya beli canang, bunga, itu kan harganya bisa naik. Intinya jiga pertumbuhan ekonomi naik inflas pun akan naik selalu beriringan, ” ujarnya.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, konsumsi masyarakat tetap menjadi faktor penting. Ekadina menjelaskan bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ditopang oleh pengeluaran masyarakat, pengeluaran pemerintah, investasi, serta ekspor dikurangi impor. Jika komponen-komponen tersebut bergerak positif, maka pertumbuhan ekonomi akan tetap terjaga.
“Kalau konsumsi masyarakat naik, pasti ada pertumbuhan. Itu artinya daya beli masyarakat juga naik,” katanya.
Menatap tahun 2026, Ekadina menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi Bali. Ia menilai berbagai program dan target yang dicanangkan Gubernur Bali, Wayan Koster. Termasuk dorongan investasi terutama di sektor infrastruktur, akan menjadi motor pertumbuhan.
Selain itu, transformasi ekonomi Bali yang diarahkan pada penguatan sektor pertanian, perikanan dan kelautan, manufaktur, koperasi dan UMKM termasuk Industri Kecil Mengah (IKM) Bali Bangkit, ekonomi kreatif, hingga pariwisata berbasis budaya, dinilai akan memperkuat fondasi ekonomi daerah. (jay/jon)








