
BULELENG – Upaya untuk menekan penyebaran dan korban penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus dilakukan Pemkab Buleleng melalui Dinas Kesehatan (Dinkes).
Selain menggencarkan Koordinasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M-Plus, melalui kerjasama dengan World Mosquito Program (WMP) dan Save the Children Indonesia (SCI) juga mulai dikembangkan Metode Wolbachia.
“Bersama dengan WMP dan Save the Children Indonesia, serta dukungan Anggota Komisi IX DPR Republik Indonesia dan Dinkes Provinsi Bali, mulai hari ini kita mulai kampanyekan metode Wolbachia untuk mencegah penyakit DBD di Kabupaten Buleleng,” tandas Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Buleleng Sucipto pada acara launching metode Wolbachia di Krisna Beach Street Kawasan Wisata Pantai Penimbangan, Selasa (4/6/2023).
Mewakili Pj. Bupati Buleleng, Kadiskes Sucipta, bersama Anggota Komisi IX DPR Republik Indonesia I Ketut Kariyasa Adnyana, Kabid P2P Dinkes Provinsi Bali, I Wayan Windia dan Man Magilan selaku Senior Project Manager Save the Children Indonesia untuk WMP Bali berharap metode Wolbachia mampu melindungi masyarakat dari DBD.
“Inovasi yang digagas WMP dan didukung oleh pemerintah Australia, Gillespie Family Foundation dan Pemprov Bali ini diharapkan mampu menurunkan tingkat kasus DBD di Kabupaten Buleleng. Saat ini, sesuai data per tanggal 4 Juli 2023 jumlah kasus DBD sebanyak 609 kasus tersebar di 9 kecamatan,” tandasnya.
Melalui kampanye ini diharapkan metode Wolbachia yang akan diterapkan pada Bulan Juli – November 2023 di 55 desa/kelurahan, berupa kegiatan penyebaran ribuan telur nyamuk ber-Wolbachia dalam kurun waktu 20-20 minggu ditelaah, diketahui dan dipahami masyarakat.
Semada dengan Kadinkes Buleleng, Anggota Komisi IX DPR Republik Indonesia Ketut Kariyasa Adnyana menyatakan sangat mendukung penerapan metode Wolbachia dalam penanggulangan kasus DDB.
“Selain ramah lingkungan, karena mengatasi penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan nyamuk aides aegypti, secara alami dengan memanfaatkan bakteri Wolbachia yang disebarkan lalat buah, metode ini juga telah digunakan 12 Negara Asia Tenggara dan Pasifik yang juga memiliki iklim tropis dan terbukti mampu menurunkan hingga 70 – 80 % kasus DBD di Bantul – Yogyakarta,” ungkapnya.
Ia juga berharap, kampanye, sosialisasi edukatif oleh kader kesehatan yang telah mendapatkan Training of the Trainer (ToT) dapat mempercepat pemahaman warga masyarakat tentang metode Wolbachia ini.
“Dengan pemahaman dan dukungan masyarakat, astungkara upaya penanggulangan DBD yang akan diterapkan di Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng pada tahun 2023 ini dapat meminimalisir kasus DPD di Bali,” pungkasnya. (kar,dha)








