
KUTA – Proyek renovasi tembok penyengker Pantai Samigita (Seminyak, Legian, dan Kuta) masih berprogres. Dalam pengerjaannya, ada satu hal yang menjadi keluhan sekaligus sorotan, yakni mengenai debu yang ditimbulkan.
Mamat, seorang pedagang di pesisir Pantai Kuta, tidak memungkiri bahwa debu beterbangan memang beberapa kali sempat dikeluhkan oleh wisatawan. Namun menurut dia, hal itu merupakan hal yang tidak bisa dikomplain, karena tujuannya adalah demi mewujudkan tampilan pantai yang lebih baik ke depannya.
“Beberapa kali memang sempat ada debu yang terbang-terbang ke sini. Tapi itu tergantung arah angin juga,” sebutnya.
Hal senada juga sempat disampaikan oleh seorang warga Kuta yang enggan namanya diwartakan. Dia menilai, pengerjaan proyek tersebut seolah kurang memperhatikan karakteristik wilayah, yakni sebagai tujuan pariwisata internasional.
Pihak proyek, diketahui sudah memasang semacam jaring penangkap debu di beberapa titik pengerjaan. Namun itu dipandang belum maksimal, karena terbukti debu masih beterbangan, baik ke arah pantai maupun badan jalan.
Untuk diketahui pula, hal tersebut juga sempat memancing komentar netizen. Yang mana salah satunya bahkan menyarankan agar pekerjaan dilaksanakan pada malam hari, sehingga meminimalisir gangguan kenyamanan akibat debu.
Sementara terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung, IB Surya Suamba membenarkan bahwa pada beberapa titik, proyek tersebut memang sudah mengarah pada tahap pemasangan bata. Sedangkan pada titik-titik lainnya, ada pula yang masih berada pada tahap pembongkaran tembok eksisting.
Disinggung soal debu yang dimunculkan dalam proses pengerjaan itu, Surya Suamba meminta permakluman. Namun demikian, dia mengaku akan memberikan atensi guna meminimalisir gangguan ditimbulkan. (adi/jon)








