KUTSEL – Bertepatan dengan hari Ngerupuk yang jatuh pada 21 Maret 2023 nanti, Desa Adat Bualu akan kembali menggelar pawai ogoh-ogoh Dresta Lango Dharma Shanti, di Catus Pata Desa Adat Bualu. Dalam penyelenggaraannya, akan diterapkan tiket dengan nilai Rp 200 – 400 ribu.
Bendesa Adat Bualu, Wayan Mudita tidak memungkiri adanya penerapan tiket tersebut. Ditegaskannya, tiket itu diberlakukan hanya untuk tamu VIP hotel yang akan menempati tribun disediakan. Sementara untuk krama adat dan masyarakat lainnya, dipastikan tidak dipungut biaya alias gratis.
“Tiket dimaksud adalah untuk tamu hotel, baik wisatawan domestik maupun mancanegara yang kebetulan berlibur dan menikmati Nyepi di Bali,” sebutnya, belum lama ini.
Dijelaskan dia, penerapan tiket semacam itu sesungguhnya sudah beberapa kali dilakukan. Yakni sejak adanya ogoh-ogoh maskot Kebo Iwa Desa Adat Bualu hingga sebelum Covid-19.
“Pada saat Covid-19, kegiatan ogoh-ogoh sempat terhenti karena kita menghormati kebijakan dari pemerintah,” ungkapnya.
Meski demikian, pada tahun lalu kegiatan Dresta Lango Dharma Shanti tetaplah dilaksanakan. Tapi itu digelar tanpa ogoh-ogoh, melainkan hanya pelaporan pertanggungjawaban prajuru desa di Parum Agung Krama Desa Adat Bualu.
“Untuk tahun ini, setelah dibukanya pembatasan kegiatan, dan diijinkannya kembali ogoh-ogoh, kami dari Desa Adat Bualu kembali menggelar pawai ogoh-ogoh dengan melibatkan 8 banjar adat dan 4 banjar dinas di wewidangan Desa Adat Bualu,” bebernya.
Pelaksanaan pawai tersebut pun, dipastikan mendapat sambutan antusias dari para wisatawan. Buktinya, melalui manajemen hotel masing-masing, sebelumnya mereka berulang kali menanyakan soal kelanjutan pelaksanaan Dresta Lango Dharma Shanti Desa Adat Bualu.
“Tamu VIP akan dilayani secara profesional. Seperti antar jemput dari hotel, kemudian disambut oleh panitia yaitu Sabha Yowana Sandya Phala Desa Adat Bualu untuk diantar ke tribun yang disediakan. Selain itu, mereka juga akan disuguhi minuman segar berupa kelapa muda,” sebutnya.
Duia juga memastikan bahwa keamanan dan kenyamanan menonton gelaran tersebut akan dikawal oleh Pecalang Desa Adat Bualu.
“Perlu kami sampaikan, yang akan disajikan nanti bukanlah sekedar pawai ogoh-ogoh. Namun ada juga beberapa fragmen tari yang akan ditampilkan dan diiringi dengan baleganjur. Itulah daya tariknya nanti,” sambungnya mengenai pawai ogoh-ogoh dengan tribun berkapasitas 300 seats itu. (adi/jon)








