
BULELENG – Kolaborasi, perpaduan seni budaya Bali berupa gamelan/tabuh dan tarian Barongsai di Klenteng Ling Guan Kiong, kawasan Eks Pelabuhan Buleleng menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara (Wisman).
Tradisi budaya yang mengiringi ibadah umat Kongfuchu serangkaian peringatan Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili, tak hanya membuat senang Kristian (67) dan Willy (65) tapi juga kagum terhadap alkulturasi budaya yang menunjukan tingginya peradaban dan toleransi beragama.
“Verry good, saya senang melihatnya. Apakah ada acara minum atau pesta ?” tandas Kristian dan Willy saat berkunjung di Klenteng Ling Guan Kiong kawasan Eks Pelabuhan Buleleng, Sabtu (21/1/2023).
Pasangan suami istri (Pasutri) asal Belanda ini kembali bedecak kagum saat mendapat penjelasan dari Bob Suardika, wartawan yang sedang meliput tentang kegiatan ibadah tanpa minuman keras (miras) dan pesta.
“Good, tidak ada pesta dan minum miras. Boleh saya datang menyaksikan kegiatan seni budaya, Barongsai maupun gamelan Bali, kami tentu sangat senang bisa menyaksikannya nanti,” ujar Kristian saat mendapat jawaban boleh dari panitia yang dikonfirmasi Bob Suardika.
Kedua wisatawan ini bahkan sangat senang ketika diantar dan mendapatkan penjelasan lengkap tentang kegiatan ibadah Umat Kongfuchu serangkaian Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili, sejarah dan tradisi di Klenteng Ling Guan Kiong.
Dikonfirmasi terpisah, Wira Sanjaya selaku pinisepuh Klenteng Ling Guan Kiong mengaku sangat ‘well come’, terbuka kepada siapa saja termasuk wisatawan yang berkunjung ke tempat ibadah yang berlokasi di Kawasan Wisata Eks Pelabuhan Buleleng.
“Selain memiliki keterkaitan dengan Pelabuhan Buleleng masa lampau, Klenteng Ling Guan Kiong juga merupakan salah satu daya tarik wisata religius pada kawasan Eks Pelabuhan Buleleng berupa Pura Segara Desa Adat Buleleng, Mesjid A’Nur dan Mesjid Jam’i,” terangnya.
Ia berharap, keberadaan Klenteng Ling Guan Kiong yang berada tak jauh dari ‘Jembatan Melengkung’ peninggalan Belanda dapat tetap terjaga dan lestari berikut tradisi seni budaya yang ada.(kar/jon)








