
BULELENG – Upaya mewujudkan Satu Data Indonesia sesuai Peraturan Presiden Nomor 39 tahun 2019 terus dilakukan Pemprov Bali, bersama kabupaten/kota yang ada di Bali. Melalui kerjasama dengan Buffet dan IASP Australia, Pemprov Bali menjadikan Kabupaten Badung dan Buleleng sebagai pilot project pengembangan transformasi digital bidang kesehatan, sebagai salah satu ‘Strategi Digitalisasi Kesehatan 2024’ dan implementasi Resolusi G20 bidang kesehatan.
“Riset satu data sesuai Perpres No 39 tahun 2019, diperkuat Permenkes No 24 tahun 2022 tentang rekam medis elektronik, inisiasi dari pemerintah Australia melalui Buffet, kemudian IASP menugaskan Reconstra dan terpilihlah dua locus yakni Badung dan Buleleng,” ungkap Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Bali, Ida Bagus Gde Wesnawa Punia usai sosialisasi Sistem Surveilans dan Informasi Kesehatan yang aman dan Interoperable di Puri Saron Lovina, Senin (28/11/2022).
Wesnawa didampingi Kadinkes Buleleng Sucipto menandaskan Pemprov Bali menegaskan dan mempermudah pergerakan dan data yang dihasilkan akan menjadi sebuah konsep analisis sistem kesehatan di Bali.
“Ini juga linier dengan kebutuhan hasil G20, transformasi kesehatan. Pada pertemuan kali ini, kita coba melihat kacamata, potret dari teman-teman rekonstra, kondisi kesehatan yang terjadi di Buleleng seperti apa, kelemahannya dimana, sisi mana dan kita dorong rekan-rekan rekonstra memasukkan hal itu, support Kadinkes Buleleng,” tandasnya.
Sinergitas antara Kementerian Lembaga, Kemenkes, Lembaga Australia, Pemprov Bali dan Pemkab Buleleng ini diharapkan dapat menghasilkan sistem pendataan. “Dengan sistem pendataan sesuai rekam medis, kita dapat melakukan analisis kajian kondisi kesehatan di Buleleng dan mewujudkan pelayanan kesehatan lebih efektif dan efisien, apalagi bersinergi dengan sistem satu data sosial untuk BPJS,” tegasnya.
Sementara Cut Novianti selaku Senior Researcher Rekonstra mengatakan pihaknya bertugas mengembangkan serta membangun sistem kewaspadaan dini dan responnya. “SKDR sudah dimiliki Kementerian Kesehatan, tapi pada setiap aplikasi tentu ada saja yang bisa ditingkatkan. Kami berharap, dengan kewaspadaan dini dan responsnya membaik, tentu saja kalau ada ancaman penyakit berikutnya setelah Covid, kita bisa tahu lebih dulu dan kedepannya bisa diatasi dengan lebih baik,” ungkapnya.
Pada aplikasi yang ada saat ini berupa website, laporannya satu minggu sekali dan dikembangkan menjadi aplikasi dengan laporan real time, setiap hari. “Jadi, apapun kalau ada ancaman penyakit baru, kita bisa pantau setiap hari. Aplikasi ini sejalan dengan program Satu Sehat. Untuk menjalankan sistem baru perlu pengembangan sumber daya manusia dan itu juga yang sedang kita atasi sekarang. Rekonstra akan melakukan pelatihan petugas surveilans agar lebih update, sehingga tidak hanya sistemnya yang baru tapi juga yang menggunakan,” pungkasnya. (kar,dha)








