
KUTA – Sebuah karya seni tari tercipta merespon peringatan tragedi kemanusiaan Bom Bali. Secara perdana, karya putra asal Kuta tersebut dipentaskan di Monumen Ground Zero, pada Rabu (12/10/2022).
Selaras dengan judulnya yakni Santhi Maha Paripurna, karya persembahan Sanggar Seni Kuta Kumara Agung tersebut menunjukkan implementasi pentingnya kerukunan dan rasa toleransi sebagai wahana mencapai kedamaian. Pesan tersebut tampak tertuang dalam setiap gerak para penari.
“Santhi Maha Paripurna memiliki arti ‘perdamaian ialah hal yang maha sempurna’. Saya berharap ini bukan hanya menjadi tontonan, melainkan juga dapat memberikan tuntunan tentang pentingnya perdamaian untuk terwujudnya Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma yang berarti mewujudkan kedamaian semua makhluk dan keharmonisan alam semesta dengan jalan kebaikan,” ungkap Dr I Gusti Made Darma Putra selaku konseptor.
Meski dipentaskan pada momen peringatan Bom Bali, karya itu ditegaskan bukan membicarakan tragedi kemanusiaan yang merenggut ratusan nyawa tersebut. Melainkan murni implementasi dari sebuah perdamaian.
“Prinsipnya di sini kami tidak ingin mengingat lagi kejadian itu. Tapi bagaimana kita mewujudkan sebuah perdamian, yang kami tuangkan dalam bentuk seni tari,” ungkap doktor lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu.
Menariknya, karya tersebut digarap hanya dalam waktu tiga minggu saja. Meski demikian, tetap diupayakan untuk memberikan suguhan terbaik, demi tersampaikannya pesan dimaksud.
“Ini adalah karya seni tari kreasi inovatif, dengan sedikit sentuhan teatrikal. Ada lima penari terlibat, baik pria ataupun wanita,” ucap pria yang juga merupakan Ketua Umum Listibiya Kecamatan Kuta tersebut, menuturkan tari berdurasi sekitar 7 menit tersebut.
Untuk diketahui, karya seni Santhi Maha Paripurna tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peringatan Bom Bali di Monumen Ground Zero garapan Yayasan Isana Dewata bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kuta. Namun seperti ditegaskan Ketua LPM Kuta, I Putu Adnyana, kegiatan bertajuk ‘Doa dari Bali untuk Dunia’ tersebut bukanlah untuk memperingati sebuah tragedi. Melainkan lebih kepada mengenang dan mendoakan para korban, serta perdamaian untuk kedepannya.
“Inti dari rangkaian kegiatan ini, kita semua mendambakan kedamaian dan kebersamaan untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan dalam sebuah kebhinekaan,” singkatnya menuturkan kegiatan yang dihiasi doa lintas agama dan pencerahan Peace Word ‘Forgiving is Beautifiying’ dari tokoh motivator yakni Gede Prama. (adi/jon)








