
KUTA – Di hari peringatan Bom Bali pada Rabu (12/10/2022), penyintas, keluarga penyintas, ataupun masyarakat dan wisatawan pada umumnya, silih berganti mendatangi Monumen Ground Zero Kuta. Tidak sedikit yang tampak membawa karangan bunga, dan mendoakan 202 korban meninggal pada tragedi kemanusian tersebut.
Tidak seperti dua tahun belakangan, kegiatan doa bersama juga kembali digelar. Bahkan kali ini, ada hal tersebut dilaksanakan secara beruntun. Pertama dilaksanakan atas kolaborasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kuta dan Isana Dewata dengan tajuk ‘Doa Perdamaian dari Bali untuk Dunia’.
Sementara kedua, atas sinergi Densus 88 dengan BNPT yang menggelar kegiatan bernama ‘Harmony in Diversity’.
Khususnya yang dilaksanakan LPM dan Isana Dewata, doa bersama dipimpin oleh para tokoh dari enam agama. Yakni Hindu, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Budha, dan Konghucu. Selain ditujukan kepada para korban, doa juga dipanjatkan untuk perdamian, kehidupan ekonomi yang lebih baik, serta kelancaran pelaksanaan KTT G20 pada November mendatang.
Dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali Dewa Gede Mahendra Putra, Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, peristiwa 20 tahun lalu adalah sebuah kejadian mengerikan bagi peradaban Indonesia ataupun internasional. Bahkan itu dinilai sebagai sebuah peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa manusia, harta benda, dan dampak psikologis serta menimbulkan gangguan kehidupan dan penghidupan masyarakat.
“Peristiwa tersebut tergolong tindak pidana terorisme sebagai kejahatan serius dan luar biasa terhadap kemanusiaan, keamanan negara, dan kedaulatan negara. Oleh karena itu pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme merupakan agenda serius bagi pemerintah Indonesia untuk melindungi segenap bangsa dan setiap orang,” sebutnya.
Karenanya, Gubernur Koster menyebut sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan itu. Karena itu sekaligus sebagai momentum kebangkitan dan mengumandangkan perdamaian umat manusia.
“Tidak ada hal yang lebih indah dari kedamaian. Mulai kedamaian melangkah bersama untuk mensejahteraan umat manusia,” ucapnya.
Visi Pemerintah Provinsi Bali yakni Nangun Sat Kertih Loka Bali, ditegaskan merupakan visi yang sejalan dengan hal tersebut. Karena itu mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya.
“Provinsi Bali sebagai daerah tujuan wisata, tentu saja ditopang dengan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana memadai untuk menjaga keamanan daerah dan krama Bali serta wisatawan. Maka Pemerintah Provinsi Bali telah menerbitkan kebijakan untuk hal tersebut. Dan diharapkan peran serta seluruh komponen pemerintah, aparat penegak hukum, dan desa adat dapat bersinergi bersama menjaga keamanan dan ketertiban,” sambungnya.
Dia menyinggung, Bali adalah daerah yang kerap kali terpilih sebagai tempat penyelenggaraan berbagai event internasional, termasuk di antaranya KTT G20.
Pemerintah Provinsi Bali, tambah dia, sangatlah mengadari bahwa Bali sangat mengandalkan sektor pariwisata untuk perekonomian dan pembangunan di Bali. Karena itulah Bali sangat membutuhkan situasi yang aman, tertib, dan kondusif.
“Kita sadar menciptakan situasi yang aman bukanlah jatuh dari langit. Melainkan sesuatu yang harus kita bangun. Masyarakat dan Pemerintah Provinsi Bali sadar bahwa keamanan dan ketertiban umum sebagai sebuah sistem. Bukan hanya monopoli atau ciri khas dan juga bukan hanya domain satu pihak. Namun membutuhkan sinergitas atau peran semua elemen,” ucapnya.
Disampaikannya pula, perdamaian mengajarkan untuk tidak melakukan konflik dan bertindak tanpa permusuhan atau niat buruk terhadap orang lain. Selain itu, juga mengajarkan untuk memperlakukan orang lain tanpa melihat identitas dan saling menerima perbedaan.
“Momentum pada hari ini di Monumen Perdamaian ini, satu misi kita yakni dari kita, oleh kita, untuk kita, dan untuk perdamian. Perdamaian bukan didapatkan dari orang lain atau datang dari luar, tetapi perdamaian ada di dalam diri kita sendiri,” pungkasnya. (adi/jon)








