
KUTA – Karya Ngusaba Desa, Desa Adat Kedonganan telah mencapai puncaknya, pada Senin (10/10/2022). Segenap krama hadir, untuk mengikuti dan menyukseskan tahap demi tahap upacara.
Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha menuturkan, Puncak Karya bersangkutan terdiri dari sejumlah prosesi. Salah satu diantaranya yakni, Ngerebeg Bale Pedanan.
“Ngerebeg Bale Pedanan ini adalah sebagai tanda syukur atas anugerah Beliau (Tuhan),” sebutnya.
Berikutnya, sambung dia, Karya akan disineb pada 15 Oktober 2022 mendatang. Itu akan diawali dengan Nyenuk ke Pura Bale Agung di Desa Adat Kelan.
“Setelah itu, kembali lagi ke Pura Bale Agung Desa Adat Kedonganan. Dan selanjutnya, di tanggal 18 Oktober 2022 akan dilakukan prosesi terakhir berupa Nyegara Gunung,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Mertha juga menyampaikan, secara keseluruhan, Karya Ngusaba Desa Kedonganan adalah bertujuan untuk membersihkan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Yang nantinya, diharapkan dapat memberi pengaruh positif bagi kehidupan krama Desa Adat Kedonganan.
“Melalui Karya ini, kami juga berharap agar kedepannya hubungan antar krama bisa semakin erat, sehingga pembangunan di Kedonganan juga bisa terlaksana secara lancar,” ucapnya.
Terpisah, Sekretaris Desa Adat Kedonganan, I Made Sumerta juga menyampaikan hal senada. Kata dia, Karya Ngusaba Desa yang baru pertama kali dilaksanakan di Kedonganan tersebut kini telah mencapai puncaknya. Hal tersebut tiada lain berkat kegotong-royongan krama dan berbagai pihak yang turut memberikan dukungan.
“Soal biaya dibutuhkan, itu bersumber dari kas desa adat dan punia. Seperti punia dari utsaha-utsaha padruwen desa adat, usaha-usaha lain yang ada di wilayah Desa Adat Kedonganan, Bupati Badung dan Gubernur Bali, DPD RI, serta masyarakat pada umumnya. Saya ucapkan banyak-banyak terimakasih atas dukungan yang diberikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut disampaikannya pula, khususnya pada Puncak Karya Ngusaba Desa, prosesinya dimulai dari Padudusan Agung di Pura Bale Agung. Selain itu ada pula prosesi Bebangkit di Catus Pata yang dilanjutkan dengan Peselang di Pura Puseh Desa.
“Berikutnya kembali tedun untuk prosesi Mecandi Karang, yang kemudian dilanjutkan prosesi Ngerebeg Padanan,” ungkapnya.
Ngerebek Padanan sendiri, menurut dia memiliki makna ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Bendesa Adat Kedonganan.
“Disini kami sesungguhnya mengutamakan anak-anak kecil. Dengan harapan, mereka bisa ingat untuk melaksanakan kembali Karya Ngusaba Desa sekitar 20 atau 30 tahun mendatang,” pungkasnya. (adii)








