
KUTA – Selain Gubernur Bali yang diwakili Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, dua Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia turut hadir di tengah-tengah krama Desa Adat Kedonganan yang tengah melaksanakan upacara Ngusaba Desa, Sabtu (8/10/2022) lalu. Pada umumnya, mereka mengapresiasi gelaran Karya tersebut, dengan harapan dapat memberi manfaat positif bagi kehidupan masyarakat kedepannya.
Mantan Gubernur Bali yang kini duduk di DPD RI, Made Mangku Pastika adalah salah satunya. Menurut dia, Desa Adat Kedonganan telah menggunakan momentum yang tepat untuk melaksanakan Karya bersangkutan. Karena Bali pada khususnya, terbilang baru melalui cobaan berat berupa pandemi Covid-19.
“Mudah-mudahan dengan upacara-upacara seperti ini betul-betul bisa mensucikan kembali. Saya salut dengan partisipasi krama yang sedemikian rupa mendukung upacara ini. Saya lihat kompak sekali,” ucapnya mengapresiasi.
Gelaran upacara semacam itu, kata Pastika, merupakan bagian dari tradisi budaya. Dan sekaligus pula menjadi modal Bali, sehingga wajib untuk senantiasa dipelihara.
“Semua ini adalah proses sakralisasi. Yakni membuat desa menjadi sakral, dan membuat diri kita menjadi lebih percaya diri untuk mengarungi kehidupan berikutnya,” sebutnya.
Bagi dirinya, yang terpenting dari pelaksanaan sebuah upacara adat keagamaan, adalah menanamkan maknanya ke dalam diri masing-masing. Sehingga perilaku ke depan bisa benar-benar sesuai dengan jalan yang diberikan oleh Tuhan.
“Kita harus bersyukur karena sudah diberikan banyak anugerah oleh Tuhan. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk mengingkari hal tersebut. Itulah pesan saya, agar bagaimana proses sakralisasi upacara yang memakan biaya cukup besar, betul-betul bisa menyucikan diri kita. Utamanya para tokoh masyarakat dan tokoh agama, mudah-mudahan bisa membimbing umat sehingga benar-benar menjadi umat se-dharma yang berbakti kepada leluhur dan Ida Sang Hyang Parama Kawi,” ucapnya sembari berharap agar Karya Ngusaba Desa, Desa Adat Kedonganan, dapat berjalan lancar sebagaimana mestinya.
Hal senada juga disampaikan Senator DPD RI, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Dia mengaku menyambut baik pelaksanaan Karya tersebut, apalagi dalam sejarahnya itu diketahui baru pertama kali digelar di wilayah Desa Adat Kedonganan.
“Saya salut. Karena disini sudah menunjukkan kegotongroyongan, tanpa paturunan (iuran),” ungkapnya.
Dia juga sempat menambahkan sejumlah pesan kepada segenap krama Desa Adat Kedonganan, mengingat Kedonganan juga menyandang status sebagai wilayah tujuan wisata kuliner, yang sekaligus cukup rawan dalam hal pertahanan ekonomi dan keamanan. Salah satu diantaranya, berupa pentingnya manajemen keuangan yang baik untuk kedepannya.
“Ada pelajaran penting (terjadinya pandemi) untuk Bali, adalah bagaimana Bali ini bisa bertahan. Tidak saja untuk masa sekarang, tapi selama-lamanya,” sebutnya.
Pandemi seperti halnya Covid-19, menurut dia bisa saja terjadi 10 tahun sekali. Karena itulah maka Bali yang hidup dari sektor pariwisata budaya, dipandang penting untuk melakukan manajemen keuangan, hidup sederhana, dan menabung.
“Mohon jangan aneh-aneh cari investasi. Paling aman sekarang, uang didepositokan atau ditabungkan,” ucapnya mengingatkan segenap krama di Bali, melihat adanya ancaman resesi ekonomi.
Bukan hanya itu, AWK juga sempat berpesan agar krama Bali turut mendukung suksesnya gelaran Presidensi G20 Indonesia. Karena menurut dia, itu merupakan pertaruhan nama Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional.
“Semoga Kedonganan bisa menjadi teladan. Mudah-mudahan Karya ini berjalan dengan baik, lancar, dan terlaksana secara ikhlas,” tutupnya.
Terpisah, Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha mengaku sangat berterima kasih atas hadirnya perwakilan Gubernur Bali dan dua Senator DPD RI tersebut. Terlebih, itu disertai pula dengan pemberian pesan-pesan positif demi kebaikan Kedonganan dan Bali pada umumnya.
“Seperti pesan yang disampaikan Pak Mangku Pastika, adalah bagaimana kita tidak hanya berhenti pada pelaksanaan upacara, melainkan harus senantiasa meningkatkan kesucian diri kita untuk menjalani kehidupan ke depan. Sedangkan dari Pak AWK, adalah bagaimana kita menjalankan upacara secara gotong-royong dan ikhlas sesuai kemampuan, karena di depan akan ada tantangan yang tidak semakin ringan,” singkatnya didampingi Sekretaris Desa Adat Kedonganan I Made Sumerta.
Dalam pelaksanaan rangkaian Karya yang dihiasi penyerahan punia dari perwakilan Gubernur Bali dan dua Senator DPR RI tersebut. (adii)








