
KUTA – Didasari rasa tulus ikhlas, Desa Adat Kedonganan akhirnya melaksanakan sebuah upacara adat keagamaan ‘Ngusaba Desa’ yang sudah puluhan tahun tertunda. Melihat semangat tersebut, Bupati Giri Prasta memberikan apresiasi tinggi dan turut mapunia senilai Rp500 juta.
“Ini adalah upacara tingkatan paling tinggi yang ada di wilayah desa adat. Yang semestinya, ini dilaksanakan di setiap 30 tahun sekali. Jadi pelaksanaan upacara ini tentu sangat bagus sekali,” ungkap Bupati Giri Prasta, di sela pelaksanaan Pepada Wewalungan Caru serangkaian Karya Ngusaba Desa, Desa Adat Kedonganan, Selasa (4/10/2022).
Giri Prasta berharap, agar pelaksanaan upacara dimaksud dapat berjalan dengan baik. Karena dirinya meyakini, ketika itu dilaksanakan secara tulus ikhlas, maka akan memberikan manfaat yang baik bagi kehidupan masyarakat.
“Di sisi lain, melalui pelaksanaan upacara ini, rasa persatuan atau menyama braya antar masyarakat juga dapat tumbuh dan berkembang,” sebutnya dalam pelaksanaan Karya yang dihadiri pula oleh Anggota DPRD Provinsi Bali I Bagus Alit Sucipta, Anggota DPRD Badung Luh Gede Sri Mediastuti, serta Camat Kuta Ngurah Bhayudewa tersebut.
Sementara itu, Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha menuturkan, sepengetahuan dia, upacara tersebut baru pertama kali dilaksanakan di Desa Adat Kedonganan. Walau sesungguhnya, itu sudah menjadi rencana sejak puluhan tahun silam oleh Bendesa-bendesa Adat Kedonganan terdahulu.
Karenanya, Mertha mengaku sangat bersyukur karena akhirnya gelaran upacara tersebut bisa direalisasikan pada tahun ini. Yang tujuannya tiada lain adalah untuk membersihkan Palemahan Desa Adat Kedonganan.
“Ini kami laksanakan dengan semangat kebersamaan krama Desa Adat Kedonganan yang sangat luar biasa,” ungkapnya.
Menggelar upacara tersebut, kata dia, membutuhkan dana sekitar Rp2,7 Miliar yang berasal dari berbagai sumber. Mulai dari usaha-usaha yang dimiliki desa adat, punia usaha-usaha di wilayah Desa Adat Kedonganan, serta punia dari krama.
“Termasuk pula Pak Bupati, yang ikut mapunia senilai Rp500 juta,” ungkapnya.
Prawartaka Karya Ngusaba Desa Desa Adat Kedonganan, I Nyoman Sudarta, mengatakan, mengacu dudonan Karya, maka tahapan sudah dimulai sejak 27 Juli 2022 dengan kegiatan Penyangra Uparengga. Sedangkan untuk Puncak Karya, dijadwalkan terlaksana pada 10 Oktober 2022 nanti.
“Kemudian itu akan dilanjutkan dengan Nyenuk di Pura Bale Agung Kelan pada 15 Oktober 2022, dan Nyegara Gunung pada 18 Oktober 2022,” sebutnya. (adii)








