
KUTSEL – Selain vaksinasi booster serta Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), persoalan anjing liar juga turut menjadi pembahasan serius para tokoh di Kecamatan Kuta Selatan, ketika Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa melakukan Konsolidasi Vaksinasi Booster belum lama ini. Itu diharapkan turut menjadi atensi instansi terkait, terlebih di tengah masa banyaknya hajatan internasional.
Informasi terangkum, keberadaan anjing liar tersebar pada sejumlah desa/kelurahan di wilayah Kuta Selatan. Termasuk di antaranya Kelurahan Benoa, yang notabene akan menjadi sentral pelaksanaan KTT G20 pada November mendatang.
Seperti disampaikan Ketua Pecalang Desa Adat Peminge, I Nyoman Beker, persimpangan jalan menuju Pura Geger adalah salah satu lokasi anjing liar. Bahkan sepengetahuan dia, ada oknum yang dengan sengaja melepasliarkan anjing di sana.
“Kami sudah pernah tegur. Apalagi yang dilepaskan itu jumlahnya ada puluhan ekor. Kami khawatir, nantinya ada yang jadi korban gigitan,” singkatnya.
Itupun senada dengan yang disampaikan Kepala Lingkungan Panti Giri Desa Kutuh, I Ketut Lencana. Kata dia, anjing liar juga terpantau ada di sejumlah titik wilayah Desa Kutuh. Kuat dugaan, itu sesungguhnya ada yang memiliki, namun dibiarkan hidup secara liar.
“Salah satunya di Jalan Gunung Payung. Beberapa warga yang lewat di tempat itu, seolah dicegat anjing, sehingga menimbulkan rasa takut untuk melintas. Setelah saya cari tahu, ternyata itu adalah anjing liar yang kesehariannya memang di sana,” ungkapnya.
Fenomena anjing liar juga ditemukan di wilayah Jimbaran. Kepala Lingkungan Perarudan, Ketut Nika mengatakan, salah satunya berada di Jalan Wanagiri. Bahkan itu turut menjadi perhatian para pecinta, yang rutin memberi makan kepada anjing-anjing tersebut di pinggiran jalan.
“Mungkin maksudnya baik. Tapi terus terang, hal itu juga menimbulkan efek negatif. Mungkin karena ada komunikasi antar anjing, sehingga anjing yang awalnya rumahan, ikut menanti makan dari para pecinta anjing di pinggiran jalan,” singkatnya.
Terpisah, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Gede Asrama mengungkapkan, fenomena anjing liar memang patut menjadi sebuah atensi bersama.
Walau vaksinasi telah dilakukan secara menyeluruh di wilayah Kecamatan Kuta Selatan, pada tahun 2022 ini kasus rabies ternyata muncul kembali. Yang pertama yakni di wilayah Desa Kutuh, dan kemudian disusul wilayah Desa Ungasan.
“Kami ingin sampaikan juga, kondisi rabies di Bali saat ini sedang mengalami peningkatan. Dahulu tahun 2021 tidak ada kejadian meninggal pada manusia. Tapi sekarang di tahun 2022 ini, sudah 12 orang meninggal karena rabies,” bebernya.
Namun syukur, kasus semacam itu tidak terjadi di wilayah Kabupaten Badung. Kata dia, di gumi keris hanya ditemukan kasus rabies pada anjing saja. “Ada 7 ekor anjing yang kita temukan terjangkit rabies,” ungkapnya.
Kaitan dengan G20, dia mengaku sempat menerima informasi dari pihak manajemen, bahwa kini ada banyak anjing yang memasuki kawasan GWK. Anjing-anjing tersebut sebenarnya berpemilik, namun dibiarkan liar.
Langkah eleminasi, katanya menjadi hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Karena disadari, kini sudah ada aturan yang bisa menjadi dasar tuntutan hukum jika pihaknya melakukan itu.
“Kami mohon kepada masyarakat agar mengkandangkan anjing masing-masing, sehingga tidak berpotensi mengganggu kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan G20,” harapnya. (adi/jon)








