
BULELENG – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Buleleng Gede Suyasa serukan pemberian asupan gizi terbaik untuk bayi dibawah usia lima tahun (balita) yang mengalami stunting.
Asupan gizi lebih baik kepada balita yang mengalami kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis sehingga tubuhnya terlalu pendek untuk usianya ini, harus dilakukan pada pelaksanaan program bantuan asupan bagi anak dengan stunting.
“Pemberian asupan gizi kepada anak yang stunting harus lebih baik daripada anak dengan kondisi normal pada umumnya,” tandas Sekda Suyasa usai Diseminasi Audit Kasus Stunting Semester I tahun 2022 tingkat Kabupaten Buleleng di Wantilan Prajawinangun Kantor Bupati Buleleng, Selasa (6/9/2022).
Selaku Wakil Ketua Tim Penanganan Stunting Kabupaten Buleleng, Suyasa menyerukan agar program bantuan asupan untuk anak dengan stunting memiliki kualitas lebih tinggi.
“Jika gizi yang diberikan tidak memiliki kualitas lebih tinggi, maka kekurangan gizi pada anak stunting tidak bisa didongkrak dengan cepat,” ujarnya.
Penanganan anak dengan stunting juga tidak boleh lewat dari 1000 hari, kalau lewat sudah tidak bisa dibantu lagi. “Sehingga, dalam 1000 hari kita sasar dengan pemberian asupan lebih baik dan kualitas yang lebih baik,” tegasnya.
Ia menambahkan, penanganan kasus stunting harus dilakukan secara kolaborasi lintas sektor, baik dalam pendataan, menghimpun dan pendistribusian bantuan TJSL dari perusahaan.
Bappeda sebagai koordinator TJSL, kata Suyasa diharapkan segera mendata perusahaan yang berpotensi bisa memberikan bantuan atau donasi sesuai kebutuhan.
“Misalnya perusahaan ini bantu apa, jumlahnya berapa, dimana. Jadi semuanya by address, by name, by case, spesifik, bisa berupa beras bergizi, susu bergizi, daging berkualitas tinggi,” jelasnya.
Diseminasi audit sangat penting dilakukan sebagai evaluasi penanganan stunting berdasarkan data lengkap, termasuk kendala yang dihadapi.
“Data yang kuat harus dimiliki untuk menurunkan angka stunting, Diseminasi audit juga penting dilakukan sebagai evaluasi, mana program yang lemah dan harus direvisi. Mana yang efektif dijalankan, mana yang tidak. Jangan disamakan,” terangnya.
Suyasa mengaku yakin, dengan upaya bersama yang terarah, terukur serta kontinyu, angka prevalensi stunting di Buleleng pasti bisa diturunkan.
“Sesuai data, pada tahun 2019 angka prevalensi stunting mencapai 22,05 % dan bisa diturunkan hingga pada angka 8,9 % per Juli 2022. Meskipun telah berada di bawah target nasional yakni 14 % pada tahun 2024, upaya untuk menurunkan angka prevalensi stunting harus terus dilakukan secara masif,” tandasnya.
Ia mengapresiasi upaya semua pihak dalam menurunkan angka prevalensi lebih dari 10% dalam 2 tahun merupakan hal yang hebat. “Mestinya, tahun depan bisa turun sekitar 5% lagi, jangan sampai karena sudah lampaui target nasional justru jadi stagnan,” pungkasnya. (kar,dha)








