Kelompok Pemuda Bentrok di Pedungan, Tiga Luka-luka, Warga ‘Gedig’ Kulkul Bulus  

0
249
Kapolresta Denpasar AKBP Bambang Yugo Pamungkas memberikan keterangan kepada wartawan usai menggelar pertemuan dengan Prajuru Desa Adat Pedungan menyikapi bentrok antar kelompok pemuda.
Kapolresta Denpasar AKBP Bambang Yugo Pamungkas memberikan keterangan kepada wartawan usai menggelar pertemuan dengan Prajuru Desa Adat Pedungan menyikapi bentrok antar kelompok pemuda.

DENPASAR – Bentrok antar kelompok pemuda pecah di simpang Jalan Pulau Roti-Jalan Batas Dukuh Sari, Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan, Selasa (21/6/2022) dini hari. Dari kejadian itu, tiga orang mengalami luka-luka dan 14 orang diamankan di Polsek Denpasar Selatan.

Informasi yang dihimpun WARTA BALI, bentrokan sekitar pukul 00.30 WITA itu dipicu salah paham antara Niko asal Ambon dengan Jhon Key asal Sumba.

“Niko menelpon John Key untuk datang ke warung Bu Ayu di Pelabuhan Benoa. Saat bertemu, Jhon Key bersama beberapa temannya mengeroyok Niko hingga mengalami luka di kepala. Korban dibawa ke RSAD (Rumah Sakit Angkatan Darat),”kata sumber yang keberatan namanya diwartakan.

Sumber mengaku belum mengetahui permasalahan awal antar keduanya hingga terjadi perkelahian. Tidak terima temannya dikeroyok, sekelompok pemuda mendatangi tempat tinggal Jhon Key di Jalan Batas Dukuh Sari.

“Sampai mereka di lokasi, Jhon Key bersama kelompoknya langsung melakukan penyerangan menggunakan parang, kayu, serta melempar batu. Kericuhan itu membuat warga ketakutan,”ujar sumber.

Lemparan batu itu mengenai salah seorang warga, Gede Sentara asal Banjar Dukuh Pesirahan. Ia mengalami luka di kepala kemudian dibawa ke Puskesmas Pedungan.

Karena ada korban, warga membunyikan (gedig) kulkul bulus di Balai Banjar Dukuh Pesirahan. Kedua kelompok baru berhenti saling serang setelah melihat kedatangan polisi. Kapolsek Denpasar Selatan Kompol I Made Dwi Teja Permana didampingi Kepala Lingkungan Banjar Dukuh Pesirahan, Wayan Mertanadi meminta mereka bubar.

Setelah mengumpulkan keterangan di TKP, polisi membawa 14 orang untuk dimintai keterangan di Polsek Denpasar Selatan. Mereka adalah Andre, Melki, Marko , Sael, Eki, Agus garara, Antonius, Kornelis Toda, Timotius Syngoledek, Agustinus Malonga, Nangoban, Lederules , Dominggus Bag dan Andreas Nono. Sementara Jhon Key menyerahkan diri sekitar pukul 06.00.
Sementara, tiga orang yang mengalami luka-luka yaitu I Komang Gede Santana (34), Josua (luka di bagian lengan kiri) dan Fernando Ben Ariel Pattiwael (luka pada bagian kepala, bahu sebelah kiri dan kaki kiri).

Kepala Lingkungan Banjar Dukuh Pesirahan Wayan Mertanadi mengatakan, kelompok pemuda yang berseteru itu kos di wilayahnya.

Ia mengungkapkan, kejadian itu sudah sering terjadi di wilayahnya dan meminta kepada pemilik kos supaya lebih selektif menerima penghuni.

“Bukannya mendiskriminasi, tapi untuk meminimalkan kejadian seperti ini. Untuk warga luar yang mau ngekos tolong dievaluasi. Pecalang pun setiap bulan melakukan pengecekan sekaligus pengamanan,” ujar Wayan Mertanadi.

Sementara, Kapolresta Denpasar AKBP Bambang Yugo Pamungkas menegaskan, pertikaian dipicu masalah individu bukan antar etnis. Belasan orang yang dibawa ke Polsek Denpasar Selatan masih dimintai keterangan dan berstatus saksi.

“Jadi kesimpulan dari seluruh pembahasan, pertikaian ini hanya menyangkut salah paham beberapa individu yang tidak mewakili sebuah kelompok atau etnis. Perkara tersebut pun masih dalam proses penyelidikan menuju penyidikan untuk penetapan tersangka,”ujar Bambang Yugo Pamungkas saat ditemui seusai menggelar pertemuan dengan Prajuru Desa Adat Pedungan.

Sementara itu, Marthen Rwa Kasedu sebagai Ketua Satgas salah satu paguyuban yang hadir pada pertemuan itu menyampaikan masalah terjadi karena salah paham perorangan. “Di perkumpulan orang Ambon banyak orang Sumba yang gabung. Begitu juga di perkumpulan Sumba juga banyak orang Ambon yang gabung. Jadi, masalahnya ini sekarang murni oknum dan kami sudah serahkan ke Kepolisian,” ujarnya.

Pihaknya mengharapkan ada ruang untuk kedua belah pihak menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun, jika memang harus diproses, ia mempercayakan penanganan di kepolisian dan paguyuban yang ada di Bali siap mendukung. (dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one + eighteen =