
KUTA – Proyek penataan Pantai Samigita (Seminyak, Legian, dan Kuta) dihiasi sejumlah penyesuaian. Utamanya pada area Pantai Legian, mulai dari penyesuaian bangunan kuliner, hingga peniadaan tsunami shelter.
Project Manager Tunas Jaya Sanur – Bianglala KSO Nyoman Agus Sandika tidaklah memungkiri hal tersebut. Jika mengacu hasil sosialisasi terakhir, diakui memang ada sejumlah penyesuaian dimaksud.
“Hasil pembahasan di kantor lurah, juga bersama pihak PU, ada beberapa penyesuaian kembali terhadap beberapa item pekerjaan. Seperti bangunan kuliner, itu ada penyesuaian lokasi. Artinya ada geser-geser lah,” ungkapnya dihubungi Minggu (5/6/2022).
Rencana toilet basement juga diminta untuk diubah menjadi di atas permukaan. Selain itu, toilet yang ada saat ini, diminta untuk diremajakan.
“Peniadakan toilet basement itu adalah atas pertimbangan air pasang yang biasa terjadi. Ini berkaitan pula dengan maintenance ke depan, agar tidak malah terkendala,” sambungnya.
Tsunami shelter yang rencananya sekaligus menjadi padestal patung ikon, juga serupa. Dalam sosialisasi, warga meminta agar item pekerjaan tersebut ditiadakan.
“Atas usulan-usulan masyarakat itu, maka sekarang bolanya kembali ke perencana dan pemberi tugas. Dengan kata lain, nanti akan ada gambar baru. Prinsipnya kalau ada item dihilangkan, maka nanti harus ada item ditambahkan,” bebernya mengenai tsunami shelter di wilayah Legian yang sebelumnya rencana ditempatkan pada area pantai ujung Jalan Padma, yakni di sekitar candi bentar pantai.
Lebih lanjut, Agus pun mengakui bahwa dari tiga wilayah (Seminyak, Legian, dan Kuta), Legian memang menjadi area yang sejauh ini terbilang banyak mengalami peyesuaian. Kalau untuk area Kuta, penyesuaian terjadi di Pantai Jerman berkaitan dengan bangunan nelayan.
“Sejauh ini memang itu saja, mudah-mudahan tidak ada lagi,” sebutnya.
Sedangkan untuk wilayah Seminyak, justru terbilang nihil. Yang masih dilakukan saat ini, hanyalah tindak lanjut terhadap bangunan-bangunan eksisting yang merupakan aset dari instansi lain. Seperti bangunan DLHK dan Balawisata.
“Tapi itu sudah sedang dikoordinasikan oleh PU. Kalau sudah OK bisa dibongkar, maka tinggal eksekusi saja,” pungkasnya. (adi/jon)








