Gigitan Si Poleng Mulai Renggut Korban Jiwa di Karangasem

0
491
Salah satu kerabat korban menunjukan foto Kadek Sudika dalam ponselnya

KARANGASEM-Tingginya angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Karangasem, mulai menyebabkan korban jiwa. Seorang bocah berusia 11 tahun asal Banjar Timbul, Desa Bungaya Kecamatan Bebandem, dilaporkan meninggal dunia, Rabu (11/5), setelah dua hari opname di Rumah Sakit Bali Med, Karangasem.

Korban gigitan Si Poleng itu bernama I Kedek Sudika, murid kelas V SD Negeri 3 Bungaya, Bebandem. Dia meninggal dunia setelah sehari mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU rumah sakit swasta tersebut.

“Awalnya dikira sakit demam biasa,makanya dikasih paracetamol saja dan dijak menjenguk Ni Luh Nita Dewi yang yang dirawat Rumah Sakit Bali Med sejak tiga hari lalu karena positif DBD. Saat dicek kesehatannya, Kadek juga dinyatakan terjangkit,” terang kerabat korban.

Anak kedua I Wayan Juwena, dinyatakan positif meninggal dunia karena gigitan nyamuk aedes aegypti sekitar pukul 05.30 Wita.

Dipihak lain, Kadek Wirta angggota DPRD Karangasem asal Desa Bungaya, membenarkan ada warganya yang meninggal dunia karena DBD.

“Ya benar korban yang meninggal dunia baru diketahui terjangkit DBD saat diajak menjenguk kakaknya ke rumah sakit,” ucap Wirta di temui usai menghadiri sidang paripurna pengesahan Perda Narkotika.

Wirta mengatakan, kasus warga positif terjangkit DBD di desanya sangat tinggi. Dari data yang dikantongi sudah ada 15 orang warga yang dinyatakan positif kena gigitan nyamuk poleng. Ke-15 warga yang dinyatakan positif DBD itu, berasal dari empat banjar berbeda, yakni Banjar Beji, Banjar Desa, Darmakarya dan Banjar Timbul.

“Sebelum korban meninggal dunia, Dinas Kesehatan sudah melakukan fogging dan berlanjut hingga kemarin. Meminalisir terjadinya tambahan kasus, kami bersama warga juga akan membersihkan sanitasi yang ada di desa,” ungkap Wirta.

Kadis Kesehatan Karangasem I Gusti Bagus Putra Pertama, saat dikonfirmasi wartawan, mengaku belum belum ada laporan resmi terkait pasien meninggal akibat DBD. Kendati demikain pihaknya memnbenarkan bahwa pasien Sudiastika meninggal akibat terjangkit DBD.

“Kasus kematian akibat DBD ini yang pertama. Kami berharap kasusnya berhenti sampai disini saja dan tidak ada korban tambahan lagi,” pungkasnya.

Putra Peertama mengakui, tahun ini kasus DBD di wilayhanya mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Tahun ini DBD mencapai 314 kasus. Bulan Januari tercatat ada 81 kasus, Februari 62 kasus, Maret 52 kasus, April 100 kasus dan Mei sampai mencapai 19 kasus.

“Peningkatan kasus yang ada melebihi kasus DBD tahun 2021 sebanyak 185 kasus,” pungkasnya. (wat/jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × two =