
KUTA – Sejumlah sarana dan prasarana masih menjadi kendala dalam penyempurnaan pelaksanan konsep Ecomangrove yang dilakukan oleh Desa Adat Kedonganan. Mulai dari toilet, tracking, hingga perahu berukuran besar. Karenanya, uluran tangan pemerintah ataupun swasta menjadi hal yang sangat diharapkan.
Bendesa Adat Kedonganan I Wayan Mertha menuturkan, pengembangan kawasan mangrove timur Kedonganan dengan konsep Ecomangrove memang sudah terbilang cukup lama digaungkan pihaknya. Itu diwujudkan secara bertahap, di tengah keterbatasan yang dimiliki.
Namun demikian, sejumlah produk sesungguhnya sudah mulai ditawarkan. Di antaranya seperti paket tour mangrove, tanam mangrove, dan mancing.
“Jadi bisa dikatakan ini baru trial, sambil kita perkenalan. Sembari itu, kita juga terus berupaya melengkapi sarana dan prasarana dibutuhkan, dan mengembangkan SDM yang kita miliki,” ungkapnya Minggu (13/3/2022).
Meski demikian, itu diakui belum bisa dikatakan sempurna seratus persen. Karena keterbatasan, masih ada banyak sarana dan prasarana yang harus disiapkan. Salah satunya keberadaan toilet.
Di samping itu, dibutuhkan pula jalur tracking menuju sebuah area bernama Sawang. Itu adalah sebuah area di dalam hutan mangrove yang tetap diselimuti air, meski dalam kondisi laut surut.
“Produk tour mangrove ini sangat dipengaruhi pasang surut. Untuk mengatasi persoalan tersebut, kami butuh semacam jalur tracking yang menghubungkan antar titik start menuju lokasi yang selalu ada airnya. Panjangnya sekitar 500 meter,” bebernya.
Selain itu, juga dibutuhkan perahu dengan ukuran yang lebih besar. Karena sementara ini, yang tersedia kebanyakan masih berupa perahu kecil saja.
“Yang namanya jukung tradisional, itu ukurannya relatif kecil. Kalau individu atau couple mingkin masih bisa. Tapi sekarang ini, ada beberapa anak muda di sana sudah coba untuk investasi dengan membeli perahu berukuran sedikit lebih besar,” bebernya.
Kaitan dengan keterbatasan yang ada, peran pemerintah ataupun swasta melalui CSR diakui sebagai hal dibutuhkan. Selain guna membantu masyarakat, itu juga demi mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian mangrove.
Lebih lanjut untuk diketahui pula, konsep Ecomangrove dikembangkan Desa Adat Kedonganan setelah melihat kondisi dan besarnya potensi mangrove pesisir timur. Pengembangan tersebut dipastikan tanpa eksploitasi, melainkan justru lebih kepada konservasi.
Mertha menyebut, konservasi notabene merupakan salah satu kunci dari konsep tersebut. Mengingat yang ditawarkan, adalah kelestarian ekosistem hutan mangrove itu sendiri.
“Konsep Ecomangrove ini sebetulnya mengadopsi kegiatan ekowisata atau Ecotourism. Jadi ada beberapa prinsip di sana, yakni konservasi, edukasi, dan manfaat bagi masyarakat lokal,” bebernya.
Menjaga kebersihan dan kelestarian mangrove, sambung dia, kini sudah menjadi hal rutin yang dilaksanakan masyarakat nelayan setempat. Bahkan di awal pelaksanaannya, sekitar 4 ton sampah sudah berhasil diambil dari 22 hektar area hutan mangrove pesisir timur Kedonganan. (adi/jon)








