Perkenalkan Museum Subak Mandala Mathika, Gelar Museum Keliling

0
199
Program museum keliling digelar UPTD Museum subak Mandala Mathika Sanggulan guna membangkit minat generasi muda turun bertani sekaligus memperkenalkan keberadaan museum subak

TABANAN –  Meski berada di Tabanan, keberadaan  Museum Subak Mandala Mathika  memang belum sepenuhnya diketahui masyarakat terutama di kalangan generasi muda (yowana). Tidak banyak yang datang melihat  tradisi subak yang adi luhung yang dipamerkan di museum subak Sanggulan.

Terkait  kondisi tersebut, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Subak berencana meneruskan kegiatan Museum Keliling ke sepuluh kecamatan di Kabupaten Tabanan pada 2022 mendatang. Tujuannya untuk mempromosikan dan memberitahukan keberadaan Museum Subak kepada masyarakat.  Kegiatan ini diharapkan bisa menggugah para yowana (pemuda) untuk bergelut dengan sektor pertanian.

“Tahun depan tetap kami melanjutkan kegiatan museum keliling. Seperti sosialisasi, belajar di Museum Subak, dan kajian-kajian koleksi museum,” jelas Kepala UPTD Museum Subak, Ida Ayu Pawitrani, Minggu (28/11/2021).

Dikatakan, kegiatan Museum Subak Keliling dimulai sejak Oktober 2021 lalu. Saat ini kegiatan tersebut telah berakhir setelah roadshow ke sepuluh kecamatan yang ada di Tabanan. Selain mengenalkan keberadaan Museum Subak lewat media film, pihaknya juga mengajak para yowana untuk mengenal Subak.

“Pengenalannya juga dilakukan lewat media film,”  katanya.

Selain itu, pihaknya juga membawa beberapa koleksi museum untuk ditunjukkan langsung kepada para yowana yang di masing-masing kecamatan terdiri dari 48 orang.

“Koleksi yang kecil-kecil seperti anggapan (ani-ani). Dengan ditunjukkan langsung, kami mau memberitahukan kepada para yowana, dengan alat ini lho, nenek moyang kita bisa menghasilkan beras,” tegasnya.

Usai pemutaran film Museum Subak, Subak, dan pengenalan alat-alat tradisional pertanian, kegiatan Museum Subak Keliling juga diisi dengan diskusi.

“Dengan demikian minat mereka untuk menggeluti sektor pertanian tergugat. Jangan sampai, mereka yang jadi pemilik budaya Subak malah tidak mengenalnya sama sekali,” imbuhnya.

Di musim pandemi Covid-19 yang terjadi sepanjang 2021, kegiatan Museum Subak Keliling ini diklaim cukup efektif untuk mencapai target pengenalan kepada masyarakat. Khususnya segmen yowana atau remaja dan pemuda yang rata-rata merupakan pelajar.

“Kalau soal mereka ingin menggeluti pertanian mungkin belum sampai ke sana. Tetapi dari sesi diskusi di kegiatan itu, beberapa yowana cukup antusias. Mereka bertanya kapan bisa berkunjung ke Museum Subak,” pungkasnya.  (jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

14 − eleven =