Jaga Tradisi Pertanian, Para Istri Petani Diajari Buat Banten Biukukung

0
148
Pelatihan membuat Banten Biukung sebagai upaya meletarikan budaya pertanian yang adiluhung

TABANAN – Tradisi biukukung, adanya rangkaian prosesi dalam menanam padi di Bali. Prosesi upacara biukukung dilakukan ketika padi berumur tiga bulan. Namun belakanga , tradisi ini semakin memduar dna semakin jarang petani menggelarnya. Mencegah tradisi adiluhung tak pudar, UPTD Museum Subak Sanggulan menggelar pelatihan pembuatan banten biukukung khususnya untuk ibu-ibu tani.

Sejumlah istri-istri petani dan ibu tani dari masing-masing desa di Tabanan tampak datang ke Museum Subak Tabanan, Selasa 26 Oktober 2021. Mereka datang dengan mengenakan pakaian adat Bali bukan untuk melakukan upacara atau mendapat bantuan. Mereka mengikuti belajar membuat Banten Biukukung.

Banten Biukukung untuk mengupacarai tanaman padi ketika sudah memasuki usia 3 bulan. Ritual Biukukung bagi para petani dipercaya untuk kesuburan tanaman padi. Selain agar terhindari dari serangan hama, juga agar hasil padi mereka saat panen melimpah.

Saat pelatihan pembuatan Banten Biukukung digelar di areal Museum Subak Tabanan para ibu-ibu istri petani ini tampak antusias mengikuti. Selain diberikan pelatihan pula juga diberikan pemahaman soal fungsi dan tujuan upacara Biukukung. Mereka nampak antusias mengikuti pelatihan pembuatan banten yang menjadi tradisi pertanian di Bali tersebut.

Kepala UPTD Museum Subak Tabanan Ida Ayu Ratna Pawitrani mengatakan, ada sebanyak 48 pasikian paiketan krama istri (Pakis) dengan sasaran yakni istri-istri dari para petani yang ada di Tabanan. Belajar pembuatan banten Biukukung digelar dari 20 Oktober sampai 2 November 2021.

Membekali istri-istri para petani dengan melatih membuat banten Biukukung bukan tanpa sebab. Selain untuk memperkuat dan melestarikan tradisi dilahan pertanian, karena banten Biukung adalah sarana upacara di lahan pertanian padi. Juga memberikan ingatkan kepada ibu-ibu bahwa banten Biukukung memiliki fungsi dan makna yang sangat luar biasa.

“Kami harus mengajarkan pembuatan banten ini dengan menyasar ibu-ibu atau warga yang masih memiliki lahan persawahan yang ditanami padi. Agar mereka tetap ingat, tidak memudarkan tradisi yang sudah turun temurun dilakukan petani,” jelasnya.

Menurutnya, Banten Biukukung saat Upacara Biukukung digelar di lahan pertanian ketika padi sudah berusia 3 bulan atau padi sudah berisi cairan susu yang dianggap petani padi sudah hamil. Tujuan utama Upacara Biukukung sesuai dengan ajaran Agama Hindu dan kepercayaan masyarakat dilaksanakan agar nantinya padi tumbuh dengan subur dan hasil panenan melimpah ruah.

“Ritual ini juga diyakini untuk menghilangkan bahaya (untuk keselamatan) padi yang sedang hamil dan siap untuk melahirkan dan terhindar dari serangan hama dna penyakit,” sebutnya.

Sementara untuk bahan dan tetandingan pembuatan banten Biukukung mengacu pada lontar yang ada. Dalam Lontar Bhagawan Sukra, bahan dan tetandingan yang harus ada buah, canang sari, tipat blayag, tipat nasi, canang payasan serta sarana lainnya.(jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

17 + thirteen =