Daya Beli Rendah, Paket Berwisata Terjangkau untuk Domestik Jadi Pilihan

0
157
Objek wisata Desa Tenganan, Karangasem, sepi kunjungan wisatawan dampak pandemi Covid-19.
Objek wisata Desa Tenganan, Karangasem, sepi kunjungan wisatawan dampak pandemi Covid-19.

DENPASAR – Sistem perencanaan pariwisata Bali perlu menggarap sektor destinasi yang mudah terjangkau agar recovery perekonomian segera pulih.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Institut for Development Ekonomic and Finance ( INDEF), Tauhid Ahmad di sela-sela acara SURYA (Survey Bicara) yang digelar Bank Indonesia, Selasa 19 Oktober 2021, dengan tema ‘Perkembangan Perekonomian Terkini Dan Peran Wisatawan Nusantara Untuk Mendukung Bali Bangkit’.

Menurut Tauhid, di masa pandemi Covid-19, daya beli masyarakat menurun. Implikasinnya, orang berwisata sangat memperhitungkan biaya yang dikeluarkan. Karenanya, perlu ada program atau paket terjangkau yang ditawarkan Bali untuk wisatawan nusantara. ”Daya beli masyarakat turun, rata-rata orang dengan jumlah tabungan Rp 100 juta ke bawah menurun. Begitu pula kelompok orang yang memliki tabungan di bawah Rp 5 miliar juga menurun, ini fakta,” ungkapnya.

Paket berwisata terjangkau menjadi pilihan Bali untuk membangun kembali sektor wisata yang mengalami tekanan berat karena Covid-19. “Misalnya, menawarkan paket diskon di sejumlah objek wisata. Selain itu, kembali lagi meyakinkan konsumen untuk memberikan stimulasi bahwa Bali sangat aman, standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability) yang disebar secara luas karena istilah CHSE selama ini hanya dipahami kalangan hotel. Bali aman, bersih dan peduli lingkungan harus terus digaungkan,” tegasnya.

Narasumber dari Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, bila berharap akan kedatangan wisman pada kenyataanya masih sulit. Satu-satunya harapan menggeliatkan sektor pariwisata di Pulau Dewata adalah dengan menggarap wisatawan nusantara (winus).

“Data Dinas Pariwisata Bali berdasarkan survey 2019, lamanya tinggal (leng of stay) wisman rata-rata sembilan hari dan winus empat hari. Pengeluaran wisman 142 US Dolar per hari, sedangkan winus Rp 400 ribu per hari. Jadi, pengeluaran wisman 10 kali lipat lebih gede dibandingkan pengeluaran winus,” bebernya.

Hanya, di masa pandemi ini, kata Rizki Ernadi Wimanda, diarahkan untuk menggarap wisatawan nusantara terlebih dahulu. Secara bertahap ke depannya, para pegiat maupun pelaku wisata medesain paket premium bagi orang kaya. “Memang ke depan itu harus serius menggarap quality tourism, tapi untuk sementara pilihan paket wisatawan nusantara dahulu yang digarap,” harapnya.

Sependapat dengan Rizki, pembicara Jhon Safenson dari Traveloka mengakui di masa pandemi ini, market nusantara tetap menjadi pilihan. ”Market di seluruh dunia dimananpun, ya market nusantaranya digarap karena batasan pandemi belum sepenuhnya memberikan kebebasan bagi turis asing berlancong. Jadi, tantangan Bali di masa mendatang adalah kesiapan akomodasi dan akses terus dibenahi,” tandasnya. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + eight =