
MANGUPURA – Meski belum significan, kebijakan Work From Bali (WFB) yang dicanangkan pemerintah pusat diakui cukup berdampak bagi pariwisata Bali khususnya Badung. Hal ini diakui oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Badung yang menyebut WFB bisa mendongkrak pendapatan daerah yang bersumber dari pajak hotel dan restauran (PHR).
Kepala Bapenda Badung I Made Sutama menyatakan sangat mengapresiasi perhatian pemerintah kepada pariwisata di Bali, dengan mengeluarkan beberapa kebijakan salah satunya Work From Bali. Dari pemantauan yang dilakukan, program WFB cukup berdampak pada geliat pariwisata khususnya di Badung, yang secara otomatis juga berdampat pada pendapatan dari dari PHR.
“Tentunya itu (WFB) ada dampaknya. Kami belum menghitung berapa prosentasenya dari masih berjalan. Tapi kami sangat yakin Work From Bali akan mendongkrak pendapatan daerah dari sektor pajak,”kata Sutama, Rabu (23/6/2021). Ditambah lagi sejumlah acara pertemuan-pertemuan berskala nasional telah dilaksanakan di Bali, khususnya Badung.
Kebijakan ini cukup membawa angin segar bagi pelaku wisata di Bali, ditengah krisis pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. “Sejumlah hotel yang sebelumnya tutup kembali beroperasi walau terbatas, rumah makan juga, termasuk pusat oleh-oleh kembali mengeliat,”katanya. Pihaknya sangat berharap kebijakan ini tetap dilanjutkan ditengah lonjakan kasus yang kembali terjadi khususnya di pulau Jawa.
Bali, khususnya Badung lanjut Sutama, sangat serius menerapkan protokol kesehatan dimana sebagian besar akomodasi dan tempat wisata telah mengantongi sertifikat CHSE singkatan dari Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan).
“Dan lebih dari 90 persen warga Badung telah menjalani vaksinasi Covid-19. Yang artinya wilayah kami (Badung) aman untuk dikunjungi,”kata Sutama seraya mengharap rencana pembukaan pariwisata Bali pada bulan Juli ini tidak ditunda lagi. (lit)








