Satu Akses Pantai Labuan Sait Diperbolehkan untuk Jalur Evakuasi Mayat

0
250

BADUNG – Desa Adat Pecatu seolah ‘melunak’. Dari sejumlah akses Pantai Labuan Sait, satu akses diperkenankan sebagai jalur evakuasi mayat.

Bendesa Adat Pecatu Made Sumerta mengatakan, itu merupakan hasil pertemuan yang digelar, Minggu 13 Juni 2021 petang, dihadiri unsur-unsur Desa Adat Pecatu lainnya, serta Dinas Pariwisata Kabupaten Badung termasuk Balawista.

Sumerta menyampaikan,  Pantai Labuan Sait sesungguhnya memiliki empat akses. Satu yang terbaru disepakati untuk dipergunakan sebagai jalur evakuasi. “Jalur itu berada di atas sungai kering yang sudah kita dak. Itu tidak melintas di depan Pemedal Pura Dalem Pangleburan. Selain itu, jalur tersebut juga lebih representatif karena lebih lebar dan tidak licin,” ujarnya dihubungi Senin 14 Juni 2021. 

Jalur itu, kata  Sumerta, sesungguhnya termasuk pula dalam wilayah yang secara niskala tidak diperkenankan sebagai jalur evakuasi mayat. Namun, atas sejumlah pertimbangan, termasuk misi kemanusiaan, akhirnya diputuskan untuk bisa dipergunakan. 

“Toh juga di setiap Pujawali itu didahului dengan pembersihan sekala dan niskala serta menghaturkan Guru Bendu Piduka,” ujarnya sembari menambahkan,  kesimpulan yang diambil itu bisa pula disebut sebagai sebuah jalan tengah dari kondisi yang ada.

Sementara, AA Yuyun Hanura Enny selaku perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Badung yang dikonformasi mengatakan sangat menghormati keputusan dari pihak desa adat mengingat arahan untuk tidak menggunakan akses Pura Dalem Pangleburan, notabene didasari atas petunjuk niskala yang wajib pula menjadi perhatian bersama. “Kita menghormati apapun yang menjadi keputusan di desa adat,” sebut Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Badung itu.

Sekadar mengingatkan, larangan evakuasi mayat melalui akses Labuan Sait mencuat ketika ada temuan mayat di bawah tebing curam Pantai Suluban Pecatu, Rabu 9.Juni 2021.  Awalnya, petugas Balawista rencana menggunakan jalur tersebut untuk melakukan evakuasi ke darat. Namun sayang itu tidak diperkenankan atas alasan adanya petunjuk niskala yang ‘melarang’ hal tersebut. Jikapun dipaksakan, maka mau tidak mau harus disusul gelaran ritual Bendu Piduka. Mempertimbangkan hal tersebut, maka petugas Balawista Kabupaten Badung ketika itu memutuskan untuk melakukan evakuasi melalui Pantai Dreamland. (adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here